Selasa, 19 Juli 2016

Fungsi Penglihatan Anak Tunarungu


Para pakar umumnya mengakui, bahwa pendengaran dan penglihatan merupakan indra manusia yang amat penting, disamping indra lainnya. Begitu besar fungsi kedua indra tersebut dalam membantu setiap aktivitas manusia, sehingga banyak orang yang menyandingkan kedua jenis indra tersebut dwetunggal. Akibatnya, jika seseorang kehilangan salah satu diantaranya maka sama artinya ia harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Terlebih lagi jika gilang keduanya, dapat diibaratkan yang bersangkutan telah menghadapi “kiamat kecil” dalam hidupnya.

Kedua macam indra (penglihatan dan pendengaran) memiliki jangkauan yang sangat luas. Oleh karena itu, ank yang kehilangan salah satu (khususnya kehilangan pendengaran) maka tidak bedanya ia seperti kehilanan sebagian kehidupan yang dimilikinya. Untuk menggantinya dapat dialihkan pada indra penglihatan sebagai kompensasinya. Itulah sebabnyam cukup beralasan jika para ahli berpendapat indra penlihatan bagi anak tunarungu memiliki urutan terdepan, karena memang memiliki peranan yang sangat penting, baru kemudian disusul dengan indera-indera yang lainnya.
Apapun keistimewaan yang dimiliki oleh kedua indera tersebut sebagai indera terdepan manusia, namun tetap saja keduanya memiliki keterbatasan tertentu sesuai dengan karakteristiknya. Penglihatan mempunyai karakteristik arah jangkaunnya terpusat pada bidang dimukanya, dibatasi oleh ruang spasial, bersifat statis dan menetap. Sedangkan pendengaran mempunyaikarakteristik dapat menjangkau segala arah, bersifat temporal, tidak dibatasi oleh ruang.
Khusus kelebihan yang lain dari indera pendengaran berdasar karakteristiknya, bahwa indera ini merupakan satu-satunya indera yang mengatur apa-apa yang dimengerti dari lingkungannya kepada sistem saraf sehingga dalam keadaan tidur pun indra pendengaran masih berfungsi, hal ini terbukti orang masih dapat mereaksi apa yang didengar meskipun dalam kondisi tidur. Disamping itu, pendengaran sering pula disebut sebagai indera latar belakang, karena pendengaran seseorang dapat meramalkan sesuatu yang belum tampak wujudnya. Oleh sebab itu, jika melalui suara menunjukkan tanda-tanda yang dapat mebahayakan, misalnya kentongan tanda bahaya, letusan gunung berapi, pohon tumbang, dan lain sejenisnya maka seseorang dapat bersiap siap untuk menyelematkan diri.
Anak yang mengalami kelainan pendengaran atau tunarungau, kecakapan dan pengalaman seperti diuraikan diatas barang  kali tidak memiliki. Kalaupun ada minim sekali, sehingga sulit baginya untuk menghadapi sesuatu yang terjadi hanya dengan mengandalkan pendengarannya. Segala peristiwa atau kejadian yang ada di lingkungannya tampak olehnya banyak yang tiba-tiba membuka pintu tanpa tahu bagaimana proses sebelumnya. Dengan demikian, praktis pengalaman yang diperolehnya hanya tergantung pada indra penglihatan dibandingkan indera yang lain.
Disinilah masalahny, kondisi ktunarunguan yang dialami aoleh seseorang mendorong yang bersangkutan harus mencarai kompensasinya. Mata sebagai sarana yang berfungsi sebagai indera penglihatan merupakan merupakan alternatif yangutama sebelum yang lainnya. Peranan penglihatan, selain sebagai sarana memperoleh pengalaman persepsi visual, sekaligus sebagai ganti persepsi auditif anak tunarungu. Dapat dikatakan hilangnya ketajaman bagi anak tunarungu akan membuat dirinya sangat tergantung pada indera penglihat.
Akibat dari kondisi ketunarunguan dapat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa, kondisi kecerdasannya, serta soioal dan emosionalnya. Kondisi ini sekaligus merupakan ciri khas yang dimiliki oleh anak tunarungu pada umumnya. Sundres (1980) menyimpulkan bahwa sifat khas yang tampak pada anak tunarungu yakni adanya keragu-raguan dalam melakukan tidakan dan menarik kesimpulan sehingga konsisi ini akan berpengaruh juga pada perubahan perilakunya.
Sivernon (1967) berpendapat bahwa, anak tunarungu yang kemampuannya terbatas akan memperlihatkan banyak sekali keterlembatan dalam menguasai beerapa atau lebih konsep-konsep abstrak, akibatnya akan berpengaruh terhadap kemampuan sosial emosinya.




Sumber: Sardjono, 2000. Orthopedagogik Tunarungu I. Surakarta: UNS Press

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net