Minggu, 09 Oktober 2016

Dasar dan Tujuan Pendidikan Anak Cerebral Palsy

 Dasar dan Tujuan Penyelenggaraan Pendidikan - Dasar Pendidikan
Pendidikan bagi anak CP sebagai bagian integral dari system pendidikan nasional memiliki dasar-dasar pertimbangan dan landasan yang kuat, dari segi keagamaan, filosofis, yuridis formal, maupun dari segi medis, pedagogis, psikologis, dan sosiologis. Dasar yang melandasi penyelenggara pendidikan anak CP:
a.    Dasar dari ajaran agama
Anak CP sebagai bagian dari warga negara Indonesia dan generasi penerus bangsa, tidak terlepas dari sentuhan nilai-nilai keagamaan tersebut, sehingga penyelenggara pendidikan bagi anak CP termasuk sebagian dari pengalaman nilai-nilai keagamaan yang dianut oleh setiap warga negara Indonesia
b.    Dasar filosofis
Sebagai dasar filsofis dari penyelenggara pendidikan bagi anak CP di Indonesia adalah Pancasila
c.    Dasar Yuridis Formal
Dasar yuridis formal penyelenggara pendidikan anak CP:
(1)    Pasal 31 UUD 1945
(2)    UU R.I. No. 2 Tahun 1989
(3)    Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1991
d.    Dasar medic
Sebagian anak CP memiliki kelainan yang dapat meluas dan/atau menimblkan kelainan baru apabila tidak memperoleh pelayanan rehabilitasi dan pendidikan, atau memperoleh perlakuan tetapi perlakuannya salah. (Swanson, Merlyn S., 1991, Eleanor Schonell, 1989)
e.    Dasar pedagogic
Setiap anak CP memiliki potensi tertentu, dan kecacatan yang disandang tidak menutup kemungkinan dikembangkan potensi, dan kreativitas sesuai dengan kondisi masing-masing anak (Hardman, et.al, 1990)
f.    Dasar psikologik
Hampir seluruh anak berkelainan memiliki masalah psikologis, deikian juga anak CP, ialah adanya konsep diri dan pemahaman diri yang salah, tidak percaya diri yang salah, tidak percaya diri, rendah diri, sifat ragu, putus asa, dan sebagainya, demikian juga fungsi kognitif dan kehidupan emosional anak CP mengalami gangguan (Cruickshank, 1976, Batshaw and Perret, 1986, dalam Daniel P. Hallahan, 1988, Strauss, Alfred A., 1987)
g.    Dasar sosiologik
Anak CP pada umumnya, tidak sedikit diantaranya yang cenderng mengisolasi diri, atau hiperaktif dan atau sukar menyesuaikan diri dengan lingkungan social. Permasalahan ini sebenarnya bukan pengaruh langsung dari kecacatan yang disandang melainkan dipengaruhi oleh faktor lingkungan social, yakni keluarga, teman bermain dan sikap masyarakat sekitarnya (Cruickshank, 1980; Hobbs et al, 1985)
2.    Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan anak CP adalah agar peserta didik mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyrakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan social, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjut (PP. NO. 72/1991)
Penyelenggara pendidikan bagi anak CP memiliki dua sasaran, yaitu:
(1)    Untuk membantu mengatasi permasalahan yang timbul sebagai akibat langsung/tidak langsung dari kecacatan ,dan
(2)    Untuk membantu menyiapkan peserta didik untuk mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan social, budaya, alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuannya dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan.

Cannor (1975 dalam Musjafak Assjari, 1995) mengemukakan sekurang kurangnya 7(tujuh) aspek yang perlu dikembangkan melalui pendidikanpada diri anak tunadaksa, yaitu:
(1)    Pengembangan intelektual dan akademik
(2)    Membantu perkembangan fisik
(3)    Meningkatkan perkembangan emosi dan penerimaan dir anak
(4)    Mematangkan aspek social
(5)    Mematangkan moral dan spiritual
(6)    Meningkatkan ekspresi diri
(7)    Mempersiapkan masa depan anak
B. Perkembangan Layanan Pendidikan Bagi Anak CP
    Di bawah ini perkembangan layanan pendidikan anak di beberapa negara dan di negara Indonsia:
1.    Perkembangan Pendidikan Anak CP di Beberapa Negara
Perhatian menangani anak CP yang pertama kali oleh Dr. William John Little tahun 1861, seorang ahli ilmu kedokteran yang tertarik meneliti menolong anak-anak yang menunjukkan gejala spastik diplegia. Hasil kerja Dr. W.J Little kemudian diikuti ahli-ahli lain seperti Dr. Sigmund Freud (1883), Sir Willian Osler (1889), dan lain-lain.
Di America Serikat, perhatian memberi pertolongan bagi anak CP di rintis oleh Winthrop Phelps dan Earl carlson, keduanya sebagai  praktisi di bidang kedokteran yang memandag perlunya perlakuan tertentu bagi anak CP. W. Phelps lebih menekankan pada bentuk bantuan yang bersifat medis, sedangkan Earl Clarson menekankan pada aspek sosial psikologis.
Di Australia, perkembangan layanan anak CP dirintis sejak abad ke 18, tetapi secara melembaga baru dimulai tahun 1945 dengan berdirinya Pusat Pelayanan Anak CP yang menangani 120 anak berusia 2 tahun sampai 20 tahun. Pelopornya adalah Mr dan Mrs Mcleod, dan Dr.Claudia Burton sebagai direktur bidang medis yang juga dibantu oleh dua orang dokter sebagai staf.
Pusat Pelayanan Anak CP di Adelaide tersebut kemudian taahun 1946 dilengkapi sekolah untuk anak CP (Spastic School). Dari 120 anak , hanya anak-anak yang berasarkan asesmen memungknkan dapat dikembangkan kemampuannya yang menjadi siswa di sekolah CP.  Dalam perkembangannya CP dibentuk TK CP, yang dilengkapi alat bantu ambulasi bagi anak tertentu seta pertolongan okupasionl dari ahli terapi untuk perkembangan fisik dan psikis guna memperbaiki sikap tubuh dan penyesuaian sosial. Dan di Australia perkembangan pusat pelayanan anak CP cepat menyebar di kota-kota lain.
Minat memberikan perolongan anak CP di Inggris juga dimulai dari kasus-kasus CP secara individual. Henry wenton meupakan orang pertama yang memebrikan pelayanan dan pertolongan anak CP di Inggris, setelah ia mempelajari cara-cara kerja yang dilakukan oleh Phleps dan Croydon. Tahun 1948 jumlah sekolah anak CP bertambah dua sekolah, yaitu Westerlea di Edinburg dan Carlson House School di Birmingham. Ketiga sekolah anak CP tersebut sangat berperan bagi  perkembangan layanan pendidikan bagi anak CP di seluruh wilayah Inggris hingga sekarang.
2.    Perkembangan Layanan Pendidikan di Indonesia
Perkembangan layanan pendidikan anak cerebral palsy, mengalami peningkatan seiring dengan berubahnya pandangan masyarakat terhadap anak luar biasa (ALB) secara umum dan anak CP sendiri secara khusus yang terus mengalami peningkatan.

Perubahan pandangan masyarakat tersebut dapat dilihat pada perubahan sikap mereka terhadap ALB, sebagaimana diketengahkan oleh David W (dalam A.Salim, 1995) minimal dapat dibedakan dalam 6 tahap, yaitu:
1.    Tahap pembinasaan ALB
2.    Tahap pencemoohan ALB
3.    Tahap memberikan perlindungan menyeluruh
4.    Tahap pemeliharaan dan perawatan
5.    Tahap pemberian pendidikan, dan
6.    Tahap pelayanan rehabilitasi menyeluruh
Tenaga profesional yang memberikan pelayanan bagi ALB juga mengalami perubahan, di mana pada awalnya permasalahan CP hanya menarik perhatian orang-orang dari disiplin ilmu kedokteran , hingga sekarang melibatkan beberapa pihak yang memiliki keahlian berbeda seperti psikolog , ortopedagog, speech therapist, occupational therapist, social worker dan lain-lain.
Perkembangan PLB di Indonesia, yang pertama kali didirikan  bukan lembaga pendidikan untuk CP, melainkan untuk anak tuna netra. Dr.Westooff (A.Salim, 1994)  yang pertama kali merintis lembaga pendidikan bagi orang buta di Bandung tahun 1901. Kemudian disusul penirian “Folker School” pada tahun 1927 dan sekolah untuk anak bisu tuli oleh istri seorang dokter ahli THT, Ny. CM.Roelsema pada tahun 1930 di Bandung.
Pendidikan anak luar biasa di Indonesia diritis sejak tahun 1901. Sedangkan perkembangan layanan pendidikan bagi anak Cerebral Palsy (CP) tidak lepas dari keberadaan Rehabilitasi Centrum (RC) di Surakarta yang didirikan oleh Dr.Soeharso tahun 1946. Lembaga ini pada mulanya hanya perawatan dan pertolongan bagi orang dewasa yang cacat akibat perang, namun datang pula penderita cacat usia anak-anak sehingga Dr.Doeharso mendirikan Yayasan Penderita Anak Cacat (YPAC) yang berlokasi di Surakarta, namun siring berjalannya waktu di dirikan pula YPAC cabang di Semarang, Surabaya , Bandung, Jakarta, Ujung Pandang dan laiin-lain, kemudian berpusat di Suraakarta. Namun kini pusat YPAC dipindahan ke  Jakarta, sehingga YPAC Surakarta bestatus sebagai YPAC cabang.
Dari realita historis tersebut, dapat diketahui bahwa yang pertama kali tertarik untuk mendirikan bahkan mengembangkan layanan pendidikan bagi anak CP di Indonesia, maupun diberbagai negara berasal dari disiplin ilmu kedokteran.  Baru kemudian diikuti oleh ahli lain seperti psikologi, pekerja sosial dan PLB. Pandangan masyarakatpun semakin berubah dan kompleks, dari model kedoteran ke model ekologi.  Bahkan pada akhir abad ke-20 terjadi pengintegrasian terhadap orang-orang cacat untuk menyebarkan mereka ke masyarakat seluas-luasnya. Pada bidang pendidikan pun terjadi perubahan layanan pendidikan berintegrasi dengan anak normal dalam kelas dan sekolah biasa. Onsep baru tersebut dikenal dengan berbagai istilah seperti: normalisasi atau integrasi atau mainstreaming atau least restrictive enviroment dan deinstitusionalisai. (M. Amin, 1994).
Dilihat dari bentuk pelaksanaan, trend baru di bidang PLB (pendidikan integrasi) memiliki berbagai bentuk seperti:
a.    Integrasi penuh (Integrasi fungsional)
ALB belajar penuh i kelas normal. Hanya mendapat pelayanan khusus dalam aspek mengatasi jenis dan tingkat kecacatan.
b.    Integrasi sebagian (integrasi sosial)
Sebagian studi dapat di ikuti di kelas biasa sedangkan sebagian lagi di kelas tersendiri. Tetap mendapatkan pelayanan khusus dalam mengatasi jenis-jenis kecacatan.
c.    Integrasi lokasi (integrasi lingkungan fisik)
ALB berada dalam satu gedung namun berbeda kelas dengan anak-anak normal. Mereka hanya bersama ketika dalam kegitan yang bersifat umum seperti upacara, istirahat an kegiatan lain yang sejenis. (M. Amin, 1994).
Sumber lain (Sunardi, 1993) menyatakan bahwa dalam sistem pendidikan integrasi, anak luar  biasa dapat memiiki alternatif untuk ditempatkan pada:
a.    Sekolah dan kelas reguler tanpa bimbingan khusus
b.    Kelas reguler dengan bimbingan khusus di luar (di ruang lain)
c.    Kelas reguler sebagian hari dan sebagian hari di kelas sumber
d.    Kelas khusus sebagian hai dan sebagaian hari di kelas reguler
e.    Kelas khusus sepanjang hari
f.    Sekolah khusus sepanjang hari
g.    Pelayanan pendidikan di tempat tinggal/rumah sakit/institusi lain.
Faktor-faktor yang mendukung terlaksananya sistem integrasi dalam PLB menurut M. Amin (1994) antara lain:
a.    Perbedaan antara ALB dan anak normal hanya secara kuantitatif.
Pelayanan PLB tidak harus selalu terpisah.
b.    Perkembangan metodologi dan teknologi pendidikan telah memungkinkan diversivikasi pengajaran dalam satu kelas.
c.    Perkembangan sistem integrasi dalam PLB akan mengatasi hamatan sosial, ekonomi, dan geografis untuk tercapainya pemerataan pendidikan bagi ALB.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pelaksanaan pendidikan integrasi dapat berjalan dengan baik, ialah:
a.    Program pendidikan integrasi
Penempatan anak di skolah biasa dengan adanya program khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondidi anak.
b.    Meluruskan beberapa onsep yang salah tentang beberapa pengertian dalam penyelenggaraan PLB , seperti normalisasi, bukan berarti membuat anak penyandang cacat menjadi normal, melainkan memperlakukan mereka sama dengan anak normal pada umumnya.
c.    Pempersiapkan agar integrasi dapat diterima dengan positif oleh kedua belah pihak, ALB dan orang tua serta anak normal pada umumnya.
Kecendrungan baru pada sekolah-ekolah integrasi tidak membuat sekolah khusus di tiadakan (TKLB,SDLB,SMPLB,SMALB) masih dibutuhan bagi anak dengan kondisi yang tidak dapat diintegrasikan.

C. Pertimbangan Penempatan Pendidikan
1.    Umumnya orangtua menyekolahkan CP disekolah biasa. Keuntungan:
a)    Tempat sekolah yang dekat dengan tempat tinggal,, sehingga   orangtua tidak perlu mengantarkan anak ke sekolah.
b)    Biaya sekolah murah.
c)    Tidak adanya perasaan malu dengan lingkungan sosial (tetangga) karena anaknya dapat sekolah disekolah normal.
d)    Anak dapatbergaul dengan anak normal sehingga memungkinkan terjadinya perkembangan kemampuan menyesuaikan dengan lingkungan sosial yang optimal
Keinginan orang tua tersebut, jika tidak didukung oleh tingkat kemampuan intelektual anak yang memadai, hakekatnya akan membunuh aktualisasi potensi-potensi anak yang bersangkutan (Eleanor Schonell 1989).
Secara umum (Viola E. Cardwell; Eleanor Schonell, 1989; Bill R. Geaarheart & Mel W. Weishahn, 1976, Soeharso, 1989) penempatan dan pendidikan anak CP yang memliki intelegensi normal, super normal dan dull normal (IQ 70> ) sbb:
a)    Apabila ia cacat fisiknya ringan, maka ia dapat mengikuti pendidikan sekolah normal (reguler school)
b)    Apabila ia cacat fisik sedang, maka ia dapat mengikuti pendidikan sekolah khusus anak CP atau khusus anak cacat tubuh. Di Indonesia, sekolah disebut SLB D/ SLB D1.
c)    Apabila ia cacat fisiknya berat maka tempat sekolah sebaiknya dirumah (home teaching).
IQ 40-69, penempatan pendidikan sbb:
a)    Apabila cacat fisik ringan, maka ia dapat atau pusat-pusat ketrampilan, misal di SLB D / SLB C atau di Pusat Rehabilitasi Sosial Bina Daksa yang khusus melatih ketrampilan anak tuna daksa (PRSBD).
b)    Apabila cacat fisiknya sedang, maka ia ditempatkan dipendidikan dipusat- pusat latihan kerja khusus.
c)    Apabila cacat fisik berat, maka lebih baik home training.
IQ 40< yang cacat fisiknya ringan, sedang dan berat tidak dpt dilakukan pedidikan. Sebaiknya ditampung di pusat-pusat perawatan khusus.
2.    Kemampuan mengadakan kemampuan emosi
Anak CP (cacat lainnya) biasanya memperoleh perlakuan kasih sayang dan perlindungan dari orang tua yang melebihi kasih sayang untuk anak normal. Akibatnya perkembangan yang terbentuk biasanya cenerung bergantung pada oranglain. Perkemangan sosial terlambat atau sukar mengadakan adaptasi denga  teman-teman sebaya (Bleck, E.E. Negel, 1982; Samuel A. Kirk, James J. Gallagher 1989).
3.    Lokasi tempat tinggal dengan sekolah
Sekolah yang memiliki asrama, pertimbangan selanjutnya adalah dalam hal biaya asrama. Sebaliknya yang tidak punya asrama maka perlu dipertimbangkan apakah guru/orang tua menyediakan transportasi anak ke/dari sekolah atau tidak, apabila tersedia selanjutnya bagaimana kemampuan anak memanfaatkan transportasi tersebut (F. Eleanor Sconell, 1989).
D. Sistem Pendidikan
Di Indonesia (dalam penjelasan UU No.2/1989) dikenal ada dua jalur pendidikan, yaitu jalur pendidkan sekolah dan diluar sekolah. Pendidikan keluarga adalah pendidikan jalur luar sekolah yang diselenggarakan dalam dan oleh keluarga.
1.    Pendidikan Keluarga
Pendidikan keluarga merupakan salah satu alternatif tempat berlangsungnya pendidikan bagi anak CP. Pelaksanaan pendidikan keluarga dapat berlangsung serempak bersama-sama dengan pendidikan luar sekolah maupun pendidikan formal.
Dalam pendidikan keluarga setidaknya ada 12 teknk yang dapat dilakukan oleh orang tua, yaitu:
a.    Memberi contoh dan menyuruh anak CP untuk mencontohnya, baik dalam tingkah laku maupun dongeng-mendongeng.
b.    Membiasakan anak berbuat dan bersikap baik, ini bertujuan untuk membentuk kepribadian baik anak.
c.    Memberi dorongan dan motivasi, rangsangan, penjelasan tertentu pada anak agar timbul minat, semngat, kemauan, dan usaha-usaha positif lainnya.
d.    Memberi penjelasan tertentu untuk memperluas pengalaman, memenuhi kebutuhan dan hasrat keingin tahuan anak.
e.    Menyuruh dan melarang melakukan sesuatu.
f.    Mendiskusikan dengan anak walaupun masalahnya bagi orang tua sangat sederhana.
g.    Memberi tugas dan tanggung jawab walaupun tugas hanya membaca doa sebelum tidur.
h.    Memberi bimbingan.
i.    Mengajak melakukan sesuatu walaupun kecacatannya menghambat, akan tetapi orang tua memulai dari yang ringan dan dimampui anak.
j.    Memberi kesempatan anak untuk mencoba sesuatu.
k.    Menciptakan situasi yang baik, meskipun orang tua mengalami maslah seklaipun.
l.    Mengadakan pengawasan dan pengecekan atas tugas yang menjadi tangung jawab anak.
Musjafak Assajari (1995) menyatakan bahwa materi pendidikan anak CP dirumah terutama (1) melatih, mengawasi, dan mengoreksi gerakan-gerakan anak,  seperti gerakan-gerakan pada posisi terlentang, tengkurap, miring, duduk dsb , (2) membimbing anak dalam ADL.
Tetapi, pendidikan bagi anak CP yang dikemukakan oleh Musyafak Assajari ini masih terlalu terbatas, Pendidikan keluarga bagi anak CP, paling tidak memilik materi tentang:
a.    Pendidikan agama dan budi pekerti, antara lain :
1.    Memperkenalkan agama yang dianut oleh orang tua.
2.    Mengajak anak mengucapkan do’a-do’a.
3.    Mengajak anak melakukan ibadah
b.    Pendidikan jasmani, antara lain:
1.    Latihan penguatan otot
2.    Latihan memfungsikan gerak sendi
3.    Melatih berbicara lisan
4.    Memperbaiki posisi/ sikap tubuh ynag kurang benar.
c.    Pendidikan mengembangkan daya cipta, antara lain:
1.    penginderaan : mempertajam indera-indera lain
2.    ingatan :membisakan anka mendengarkan dengan penuh kesadaran agar anak mudah mengingatnya.
3.    Berfikir :menanamkan logika agar anak dapat menarik kesimpulan



d.    Pendidikan sikap mental, baik yang dilandasi oleh pemikiran yang rasional maupun yang didasari oleh emosional yang konstruktif.
e.    Pendidikan ketrampilan.
Lingkungan keluarga sangat dianjurkan untuk melakukan pelatihan dan pendidikan anak CP terutama yang berkaitan dengan ADL

2.    Pendidikan Luar Sekolah
Dalam rangka wajib belajar 9 tahun, kiranya jalur pendidikan sekolah anak berkelainan perlu segera digiatkan mengingat hal-hal berikut :
a.    Jalur pendidikan sekolah bagi anak CP belum    menyebar ke berbagai daerah tingkat dua.
b.    Pendidikan sekolah hanya merekrut anak-anak cacat usia sekolah, sedangkan anak usia pra sekolah dan diatas usia sekolah masih sangat minim.
c.    Banyak anak yang memngikuti pendidikan di sekolah SD tinggal kelas dan putus sekolah.
d.    Anak berkebutuhan khusus ini tidak mampu sekolah karena usia melebihi usia sekolah, mereka semua perlu ditampung di jalur pendidikan diluar sekolah.
Pendidikan luar sekolah bukan banyak memiliki keterikatan, hal ini membuat jalur pedidikan luar sekolah memiliki kegunaan dan daya-suai yang luas.
Anak CP yang dapat ditampung dalam jalur pendidikan luar sekolah, antara lain:
a.    Belum pernah sekolah sama sekali dari berbagai jenjang pendidikan yang ada.
b.    Pernah sekolah tapi tidak selesai/ drop out.
c.    Telah selesai mengikuti jenjang pendidikan tertentu, tetapi belum dapat mandiri.

Idealnya pendidikan luar sekolah bagi anak CP mencakup materi sebagai berikut :
a.    Pengetahuan dasar untuk menjadikan anak terbebas dari buta aksara, angka dan pengetahuan dasar.
b.    Pendidikan kesejahteraan keluarga seperti ilmu kesehatan ilmu gizi, kepandaian rumah tangga dan mengasuh anak, pemeliharaan perumahan, dsb pasti tentu pendidikan disesuaikan usia anak.
c.    Pendidikan kemasyarakatan, seperti pembangunan ingkungan sekitar, kegotoroyongan dll
d.    Kegiatan yang mengandung makna teraputik dengan sistem rehablitasi sumber daya masyarakat.
e.    Pendidikan kejuruan seperti kerajinan, pertukaran, komputer dll.

3.    Pendidikan Sekolah
Dengan diberlakukannya undang undang RI tentang sistem pendidikan nasional dan peraturan pemerintahh tentang pendidikan luar biasa, termasuk pendidikan anak CP perlu disesuaikan dengan UU dan atau PP..
Dengan berdasarkan undang-undang dan PP tersebut, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI menetapkan kurikulum baru PLB 1994 sebagai penyempurnaan kurikulum sebelumnya dan sekaligus menyesuaikan dengan tuntutan Undang-undang dan peraturan pemerintah yang berlaku. Kurikulum PLB 1994 terdiri atas jenjang TKLB, SDLB, SLTPLB, SMLB (SK Mendikbud No. 0126/1994). Dari uraian tersebut diatas jelaslah bahwa pendidikan sekolah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional (disamping pendidikan keluarga dan non-formal) menjadi salah satu alternatif jalur pendidikan anak serebral palsy.



E. Pola Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Menurut Kurikulum PLB 1994
1. Pendidikan bagi anak CP dapat diselenggarakan bersama dengan jenis kelainan lain. Baik untuk satuan pendidikan tingkat TKLB,SDLB,SLTPLB , maupun tingkat SMPLB, tergantung kesesuaian sengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.
2. Pendidikan anak CP menurut satuan  pendidikan tertentu
Pola ini hanya terbatas untuk satuan pendidikan tertentu misalnya hanya satuan pendidikan TKLB saja atau SDLB saja.
3. Pendidikan anak CP pada lembaga pendidikan yang khusus mendidik anak CP
Bercirikan hanya sebagai lembaga pendidikan khusus anak CP dengan menyediakan beberapa satuan pendidikan yang ada, misalnya TKLB-CP , SDLB_CP
4. Pendidikan anak CP pada lembaga pendidikan khusus yang hanya menampung anak CP menurut satuan pendidikan tertentu saja.
Lembaga tersebut hanya mendidik anak CP ( tidak ada tipe kelainan lain) yang berada pada satu jenjang pendidikan saja., missal TKLB-CP saja tidak ada SDLB-CP dalam lembaga yang sama.
5.Bagi anak CP yang memiliki kecerdasan normal/supernormal dengan tingkat kecacatan fisik yang ringan.
Dapat di didik bersama dengan anak normal melalui pendidikan terpadu. Hal ini sejalan dengan pasal 18 ayat 1 angka 5 PP NO. 72 tahun 1991




F.    Pendidikan Anak CP Menurut Kurikulum PLB 1994
Perangkat kurikulum PLB 1994 terdiri atas:
1.    Landasan, Program dan Pengembangan Kurikulum yang memuat :
a.    Landasan yang dijadikan acuan dan pedoman dalam pengembangan kurikulum.
b.    Tujuan jenjang dan satuan pelajaran.
c.    Program pengajaran yang mencakup isi program pengajaran, lama pendidikan dan susunan program pengajaran pengelompokan mata pelajaran, lama pendidikan dan susunan program pengajaran.
d.    Pelaksana pengajaran.
e.    Pelaksana penilaian.
f.    Pengembangan kurikulum sebagai proses yang berkelanjutan dan berkesinambungan, di tingkat nasional dan tingkat daerah.
2.    Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) memuat :
a.    Pengertian dan fungsi mata pelajaran.
b.    Tujuan pengajaran dan ruang lingkup bahan kajian/ pelajaran.
c.    Pokok-pokok bahasan.
d.    Konsep/ tema dan uraian tentang keluasan dan kedalamannya.
e.    Rambu-rambu cara penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar setiap mata pelajaran.
f.    Alokasi waktu yang disediakan.
g.    Uraian/ cara pembelajaran yang disediakan.
3.    Pedoman Pelaksanaan Kurikulum yang terdiri atas:
a.    Pedoman pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
b.    Pedoman Rehabilitasi.
c.    Pedoman Pelaksanaan Bimbingan.
d.    Pedoman administrasi sekolah.
e.    Pedoman Penilaian kegiatan dan hasil belajar.



Beberapa hal yang berkaitan dengan Kurikulum PLB 1994, antara lain:
1.    Peserta Didik
Pada pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 72/1991 tentang Pendidikan Luar Biasa dinyatakan jenis kelainan peserta didik terdiri atas kelainan fisik dan/ atau mental dan/ atau kelainan perilaku.
2.    Satuan Pendidikan dan Lama Pendidikan
a.    TKLB : selama tiga tahun, usia minimal tiga tahun.
b.    SDLB : selama enam tahun, usia minimal enam tahun.
c.    SLTPLB : selama tiga tahun, harus lulus SDLB dulu.
d.    SMLB : selama tiga tahun, harus lulus SLTPLB dulu.
3.    Tujuan Pendidikan pada satuan PLB
a.    TKLB : membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan dasar yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya sesuai dengan tingkat kelainan yang disandangnya dan tingkat perkembangannya, serta memperoleh kesiapan fisik, mental, perilaku dan sosial untuk mengikuti pendidikan pada SDLB.
b.    SDLB : memberikan kemampuan dasar, pengetahuan dasar, keterampilan dasar, dan sikap dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan kelainan yang disandang dan tingkat perkembangan serta mempersiapkan pendidikan tingkat SLTPLB.
c.    SLTPLB : memberikan kemampuan dasar yang merupakan perluasan serta peningkatan pengetahuan dasar, sikap dan keterampilan dasar, dan menyiapkan siswa sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara sesuai dengan kelainan yang disandang dan tingkat perkembangan, serta mempersiapkan pendidikan tingkat SMLB.
d.    SMLB : memberikan bekal kemampuan yang merupakan perluasan serta peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh di SLTPLB yang bermanfaat bagi siswa untuk hidup mandiri sesuai dengan kelainan yang disandang dan tingkat perkembangan anak.
4.    Program Pengajaran/ isi Kurikulum
a.    TKLB
1.)    Program kemampuan dasar, meliputi : moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan, emosi dan kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan berbahasa, daya piker, daya cipta, keterampilan dan jasmani.
2.)    Program khusus, untuk PLB CP adalah bina diri dan bina gerak. Sedangkan untuk yang berkelainan ganda berupa gabungan dua atau lebih program khusus yang disesuaikan dengan jenis kelainan.
b.    SDLB
1.)    Program umum, pelajaran pada umumnya.
2.)    Program khusus, bina diri dan bina gerak untuk anak CP. Sedangkan untuk yang berkelainan ganda berupa gabungan dua atau lebih program khusus yang disesuaikan dengan jenis kelainan.
3.)    Program muatan lokal, bahasa daerah atau kesenian. Ditetapkan oleh kantor wilayah Depdikbud setempat.
c.    SLTPLB
1.)    Program umum, pelajaran pada umumnya.
2.)    Program khusus, bina diri dan bina gerak untuk anak CP. Sedangkan untuk yang berkelainan ganda berupa gabungan dua atau lebih program khusus yang disesuaikan dengan jenis kelainan.
3.)    Program muatan lokal, bahasa daerah atau kesenian. Ditetapkan oleh kantor wilayah Depdikbud setempat.
d.    SMLB
1.)    Program umum, pelajaran pada umumnya.
2.)    Program pilihan, berupa paket keterampilan rekayasa, pertanian, usaha dan perkantoran, kerumahtanggaan dan kesenian, yang dapat dipilih dan ditekuni agar dapat menjadi bekal hidup di masyarakat.



5.    Susunan Program Pengajaran menurut Kep. Mendikbud. No. 0126/U/1994
a.    TKLB, berlangsung pada hari Senin sampai Sabtu, lama kegiatan belajar 3 jam sehari, satu jam kegiatan selama 30 menit. Berisi program kemampuan dasar dan program khusus.
b.    SDLB, setiap minggu minimal 30 sampai 42 jam pelajaran, kelas I dan II setiap jam pelajaran 30 menit, sedang kelas III sampai VI setiap jam pelajaran 40 menit. Terdiri atas program umum, program khusus dan program muatan lokal, dengan kurikulum SD yang disesuaikan dengan keterbatasan kemampuan belajar siswa.
c.    SLTPLB, minimal 42 jam pelajaran tiap minggu, lama belajar 45 menit. Berupa program umum, program khusus, program muatan lokal dan program pilihan, jatah waktu untuk program pilihan minimal 52 % dari keseluruhan program yang ada.
d.    SMLB, minimal 42 jam pelajaran tiap minggu, lama belajar 45 menit. Berupa program umum dan program pilihan, dengan jatah waktu untuk program umum minimal 38%.
6.    Waktu Belajar
Semua satuan pendidikan yang ada dalam kurikulum PLB 1994 menerapkan sistem catur wulan. Yang membagi waktu belajar jadi 3 bagian waktu, masing-masing disebut catur wulan.
7.    Sistem Guru
SDLB menggunakan sistem guru kelas, kecuali mata pelajaran agama dan pendidikan jasmani dan kesehatan. Sedangkan untuk Bahasa inggris, bisa diampu oleh guru kelas yang punya kemampuan berbahasa inggris atau oleh guru yang disediakan oleh daerah/ sekolah.
SLTPLB dan SMLB menggunakan sistem guru mata pelajaran.
8.    Perencanaan Kegiatan Belajar Mengajar
Perencanaan kegiatan belajar mengajar dapat meliputi:
a.    Perencanaan tahunan
b.    Perencanaan catur wulan
c.    Perencanaan yang dituangkan dalam bentuk persiapan mengajar untuk beberapa kali pertemuan
Rencana kegiatan belajar mengajar harus mengandung komponen berikut:
a.    Komponen Tujuan Pembelajaran
Merupakan kemampuan yang dirancang untuk dikuasai oleh peserta didik. Tujuan pembelajaran dibedakan atas tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan pembelajaran yang dikembangkan oleh guru hanyalah Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Sedangkan tujuan instruksional umum dapat diambil pada buku Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP).
b.    Komponen Materi
Rambu-rambu untuk menyusun komponen materi:
1.)    Materi yang disajikan harus mendukung tercapainya tujuan khusus yang telah ditetapkan.
2.)    Materi yang disajikan harus berada dalam batas-batas kemampuan peserta didik untuk mempelajarinya.
3.)    Materi yang disajikan haruslah bermanfaat bagi kehidupan anak CP.
4.)    Materi harus disusun dari yang muudah ke yang sukar, dari yang sederhana ke yang komplek, dan dari yang kongkret ke yang abstrak.
c.    Komponen Metode dan Strategi
Menurut George L. Groyer (1973), strategi pembelajaran merupakan kaidah-kaidah perspektif untuk merancang peristiwa-peristiwa pembelajaran yang dapat menciptakan pengalaman belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan.
Menurut A.J. Romiszowski (1983, dalam Moelyono, 1994/1995), macam-macam strategi pembelajaran dapat merupakan suatu kontinum dari discovery-expositive tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.)    Penemuan tanpa dirancang (inpromp to discovery or unplanned learning)
Kebebasan siswa untuk menemukan apa yang diinginkan, bisa dilakukan di perpustakaan.
2.)    Penemuan bebas (free exploratory discovery)
Tujuan belajar telah ditetapkan dahulu lalu anak dibebaskan untuk memiiliih sumber belajar.
3.)    Penemuan terbimbing (guided discovery)
Tujuan belajar sudah ditentukan, lalu siswa dibimbing untuk menggunakan metode yang relevan untukmencapai tujuan belajar.
4.)    Penemuan terprogram adaptif (adaptively programmed discovery)
Bimbingan dan koreksi umpan balik diberikan dan pembelajaran didasarkan atas individualitas siswa.
5.)    Penemuan terprogram intringsik (intrinsically programmed discovery)
6.)    Perkuliahan reflektif atau penjelasan induktif (inductive lecturing or inductive exposition)
Guru menjelaskan proses penemuan melalui ceramah.
7.)    Penjelasan deduktif (deductive expodition)
Guru memberi ceramah secara deduktif.
8.)    Latihan (drill and practice)
Guru mendemonstrasikan tentang apa yang harus dilakukan siswa dan siswa diberi kesempatan untuk latihan.

Pembelajaran Individual
Menurut Sunardi (1993, dalam JRR No. 5 Tahun 2 April – juni 1993) langkah-langkah utama dalam merancang suatu PPI atau IEP meliputi :
1.    Membentuk tim PPI dan TIM Penilai Program Pendidikan Individual (TP31).
2.    Menilai kekuatan dan kelemahan serta minat siswa.
3.    Mengembangkan tujuan-tujuan jangka panjang (long range or annual goals) dan sasaran-sasaran jangka pendek (short-term objectives).
4.    Merancang metode dan prosedur pencapaian tujuan.
5.    Menentukan metode evaluasi kemajuan.
d.    Komponen Penilaian
Rencana untuk menilai tingkat ketercapaian tujuan oleh siswa.
9.    Sistem Pengajaran
a.    Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan sistem klasikal dengan pertimbangan bakat, minat, kemampuan dan kelainan peserta didik.
b.    Mengutamakan pengembangan kemampuan psikhis dan fisik serta penyesuaian sosial peserta didik secara utuh.
c.    Memanfaatkan sarana penunjang pembelajaran.
d.    Pemberian pembelajaran tambahan.
10.    Bimbingan dan Rehabilitasi
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengatasi masalah yang disebabkan oleh kelainan yang disandang, mengenai lingkungan dan merencanakan masa depan. (Kurikulum PLB, 1994).
Rehabilitasi adalah upaya bantuan medik, sosial dan keterampilan yang diberikan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan.
11.    Penilaian
a.    Penilaian kemajuan belajar.
Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik untuk keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan pembelajaran.
b.    Penilaian hasil belajar.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa. Penilaian secara nasional untuk mengetahui mutu pendidikan luar biasa.

sumber:
Assjari, Musjafak. (1995). Ortopedagogik Anak Tuna Daksa, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Sabtu, 08 Oktober 2016

Perlengkapan Khusus Layanan Pendidikan Anak Cerebral Palsy

 Latar Belakang- Di dalam Peraturan Pemerintah No. 72/1991, dalam beberapa pasalnya menyebutkan perlunya perlengkapan khusus dalam penyelenggaraan PLB, di antaranya:
1.    Pendirian Satuan Pendidikan Luar Biasa yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau masyarakat harus memenuhi persyaratan:
a.    Sekolah yang didirikan perlu memiliki program rehabilitasi (Ps. 7 ayat 1 point 5)
b.    Sekolah yang didirikan juga perlu di sediakan tempat belajar sesuai dengan kondisi fisik anak dan perlu ada ruang rehabilitasi (Ps. 7 ayat 1 point 6)
c.    Sekolah juga perlu menyediakan peralatan rehabilitasi bagi peserta didiknya (Ps. 7 ayat 1 point 9).
2.    Bab VII tentang pengelolaan satuan PLB, antara lain:
a.    Ps. 11 ayat 1
Pengadaan, pendayagunaan dan penembangan….., tempat belajar dan ruang rehabilitasi, dari satuan PLB yang diselenggarakan oleh Pemerintah merupakan tanggung jawab Menteri.
b.    Ps. 11 ayat 2
Pengadaan, pendayagunaan dan pengembangan program rehabilitasi dan peralatan rehabilitasi pada satuan PLB yang diselenggarakan oleh Pemerintah merupakan tanggung jawab Menteri setelah mendengar pertimbangan Menteri lain.
c.    Ps. 11 ayat 5
Pengadaan, pendayagunaan,…… peralatan pendidikan khusus buku pendoman guru, peralatan rehabilitasi, tempat belajar, ruang rehabilitasi, tanah dan gedung beserta pemeliharaanya dari satuan PLB yang diselenggarakan oleh masyarakat merupakan tanggung jawab Yayasan.

B.    Gedung Sekolah
Gedung sekolah tempat mendidik anak CP pada umumnya menggambarkan adanya keterpadian dari usaha usaha perawatan medis, sosial dan pendidikan. Artinya, gedung sekolah dan kelas/ruangan yang ada telah diupayakan sedemikian rupa sehingga memperlancar pelaksanaan program rehabilitasi dan program pendidikan. Setiap bangunan. Sebaiknya selalu mempertimbangkan kepentingan pemakai, yaitu anak tunadaksa/anak CP. Artinya harus selalu memberikan kemudahan mobilitas anak CP yang (a) mampu berjalan dengan tanpa alat bantu, (b) anak CP yang menggunakan kursi roda, (c) anak CP yang menggunakan kruk, dan sebagainya.
Beberapa kondisi khusus mengenai gedung sekolah anak CP adalah sebagai berikut:
1.    Macam Ruangan Khusus
2.    Jalan masuk menuju sekolah sebaiknya dibuat keras dan rata yang memungkinkan anak CP yang menggunakan alat bantu ambulansi (seperti kursi roda, tripot, brace, kruk, Canadian Kruk, dll)
3.    Pada daerah bangunan tertentu yang terpaksa ada tangga, sebaiknya di sediakan jalur lantai yang dibuat miring dan landai.
4.    Lantai Bangunan didalam dan luar dari bahan yang tidak licin.
5.    Pintu-pintu ruangan sebaiknya daun pintunya dibuat mengatup kedalam.
6.    Jalan yang menghubungkan bangunan/kelas yang satu dengan yang lain sebaiknya disediakan lorong lorong (koridor) dan hendaknya dibuat cukup lebar, sehingga tidak mengganggu ambulasi anak yang menggunakan alat bantu jalan.
7.    Pada beberapa bagian dinding lorong dapat dipasang cermin besar yang dapat dipergunakan anak untuk memperbaiki sendiri sikap/posisi badannya.
8.    Tinggi lantai dengan halaman, ruang kelas, lorong lorong sebaiknya dibuat tidak ada tangga, agar mobilitas anak dapat lancer dan aman.
9.    Kamar mandi/kamar kecil sebaiknya tersebar atau dekat dengan kelas-kelas, sehingga anak dengan mudah segera dapat menjangkaunya.
C.    Ruang Kelas
Hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam kaitannya dengan kondisi ruang kelas antara lain:
1.    Ruangan kelas hendaknya dibuat cukup lapang, sehingga membantu kelancaran ambulasi anak dan memungkinkan anak cukup istirahat.
2.    Kelas sebaiknya dilengkapi meja dan kursi yang konstruksinya disesuaikan dengan keadaan kecacatan anak, misalnya tinggi meja dan kursi, tanganan kursi, sandaran kursi, belt bagi anak yang membutuhkan, dan lain lain.
3.    Kelas-kelas hendaknya langsung menghadap kehalaman, sehingga setelah istirahat anak dapat segera masuk ke kelas.
4.    Macam mebelair yang ada di dalam ruang kelas, sebaiknya hanya yang memang dibutuhkan oleh anak saja, sehingga ruang kelas tidak di penuhi peralatan. Tempat menaruh dan menyimpan alat-alat peraga dan alat bantu belajar yang lain sebaiknya di almari.
D.    Bagian Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Yang dimaksud disini adalah tempat memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat umum yang sangat diperlukan keberadaannya di setiap sekolah. Tujuan pelayanan kesehatan adalah untuk memelihara dan meningkatkan daya tahan serta kesehatan fisik peserta didik secara optimal. Jenis pelayanan bersifat (1) preventif ( pencegahan penyakit) (2) kuratif (perawatan kesehatan umum, perawatan kesehatan gigi,dsb), (3) promotif (meninkatkan kondisi tubuh).
Cara pelaksanaan,sangat bergantung pada kemampuan guru dan sekolah masing-masing, namun sebagai alternative dapat dibahas sebagai berikut:
Preventif
1.    Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan peserta didik secara berkala tiap bulan. Caranya sebagai berikut:
a.    Menimbang berat badan.
(1). Timbangan diletakkan ditempat yang terang dan datar, (2) jarum timbangan menunjuk pada angka nol sebelum penimbangan dimulai, (3) sepatu, sandal, alat penguat tubuh dan alat bantu lainnya, peci, baju dilepas terlebih dahulu, (4) anak disuruh naik ke atas timbangan dan berdiri tegak tanpa berpeganggan, (5) baca dan catatlah angka yang ditunjuk oleh jarum timbangan.
b.    Mengukur tinggi badan
(1). Sepatu, sandal, peci, topi dilepas dan anak disuruh berdiri tegak dengan punggung serta belakang kepala menempel ke tiang pengukur/dinding.
(2). Letakkan sisi siku-siku dari alat bantu tepat pada bagian tertinggi dari kepala anak dengan sisi satunuan menempel pada tiang/dinding pengukur.
(3). Baca dan catatlah tinggi anak.
2.    Mengadakan pencegahan terhadap gejala menular, dengan cara (a) meningkatkan kebersihan diri peserta didik, (b) mengisolasi anak yang menderita penyakit menular, atau segera rujuk ke dokter agar segera memperoleh pengobantan.
3.    Menciptaan lingkungan sekolah yang sehat, baik yang berhubungan dengan bangunan sekolah, kebersihan ruangan dan halaman sekolah, tersedianya kakus dan air yang memenuhi syarat kesehatan, hubunga yang baik antara guru, murid dan orangtua.
4.    Memberikan pendidikan kesehatan anak/siswa didik, terutama mengenai kesehatan perorangan dan lingkungan, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, makanan sehat dan hidup teratur, serta pencegahan kecelakaan.
Misalnya pencegahan penyakit dan kelainan mata:
a.    Menjelaskan berbagai tanda kekurangan vitamin A
b.    Menjelaskan cara mencegah kekurangan vitamin A
c.    Peragaan berbagai sayuran dan buah-buahan yang berguna untuk kesehatan mata,
d.    Anjurkan setiap harimakan sayuran dan buah
e.    Anjuran menanami pekarangan dengan sayuran dan buah bervitamin A
f.    Menjelaskan kegunaan kapsul vitamin A da peragakan cara pemberiannya .Pelaksanann pendidikan kesehatan ini dapat terpadu dengan pelaksanaan pelajaran bidang studi olahraga dan kesehatan, PKK, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dsb.
5.    Usahakan memberikan vaksinasi terhadap penyakit menular oleh petugas kesehatan atas dasar rujukan dari sekolah, misalnya vaksinasi penyakit cacar, anti Tetanus Serum, BCG, Polio, chotepa, dsb.
6.    Kirim anak yang memerlukan perawatan khusus ke pihak yang berwenang.
Kuratif
1.    Member pertolongan pertama pada kecelakaan
Caranya: (a) segera panggil dokter/ kirim anak kerumah sakit secepatnya, (b) hentikan pendarahan, (c) cegah dan atasi shock atau gangguan keadaan umum lainnya, (d) cegah infeksi.
2.    Memberikan pengobatan kepada anak sesuai dengan petunjukdokter (kesehatan umum).
3.    Memberikan layanan kesehatan gigi
4.    Mengadakan konsultasi pada dokter
5.    Memberikan perhatian khusus bagi anak tertentu yang belajar di sekolah, yang dalam proses kesembuhan
6.    Memberi kesempatan pada anak tertentu untuk memperoleh pelayanan terapi khusus, sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
7.    Memberitahuakan pada orangtua/wali pada kasus gawat darurat.
Promotif
1.    Pemberian makanan ekstra kepada peserta didik yang memerlukan berdasarkan rekomendasi dokter.
2.    Pemberian obat-obatan erupa vitamin, berdasarkan rekomendasi dokter.
E.    Bagian Fisio Terapi
Fisio terapi merupakan cara sistematis untuk menilai atau memeriksa kelainan-kelainan atau gangguan-gangguan otot dan saraf termasuk gejala-gejala psikhosomatis dan menangani serta mencegah gangguan fungsi dengan menggunakan cara alamiah, terutama dengan gerakan, manipulasi dan tenaga alami. Setiap sekolah yang mendidik anak CP sebaiknya memiliki bagian fisio terapi.
    Tujuan fisio terapi adalah (a) mengurangi atau menghilangkan rasa sakit , (b) manurangi atau menghilangkan pembengkakan, (c) mencegah atau menghilangkan kontraktur otot, (d) mencegah atau mengurangi kecacatan, (e) membantu penyembuhan pada penyakit- penyakit tertentu.
    Pelaksanaan fisio terapi, umumnya dengan menggunakan beberapa alternative sarana seperti air, listrik, sinar, gerakan, pemijatan. Pelaksaan fisio terapi yang utama adalah seorang fisio therapist. Sebagai seorang guru PLB sekaligus sebagai asisten ahli rehabilitasi memiliki peranan dalam membntu pelaksaan fisio terapi, diantaranya :
(a). Menyediakan data hasil pengamatan , test dan interview mengenai kemampuan dan ketidakmampuan fisik, keluhan-keluhan anak dalam mengikuti pelajaran.
(b). Atas dasar saran dokter dan fisio therapist serta kemampuan guru sendiri, ia membantu melatih anak dalam kerangka fisio terapi, melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah, Misalnya :
1.    Melatih gerak seni tertentu dalam kegiatan olahraga, kesenian, keterampilan, baik yang berhubungan dengan latihan gerak kasar (duduk, berdiri, berjalan, dsb) , latihan gerak halus.
2.    Mengawasi penggunaan alat bantu lokomosi anak di kelas.
3.    Menumbuhkan kemampuan anak dalam memanfaatkan sisa organ gerak untuk memperlancar proses belajar di sekolah.
4.    Mengelola kelas dan memodivikasi alat bantu, mengajar sesuai dengan kondisi anak.
5.    Melatih kemampuan ADL.
6.    Ikut mengevaluasi kemajuan dan perkembangan kemampuan anak selama proses rehabilitasi fisik.
F.    Bagian Terapi Okupasional
Setiap sekolah yang mendidik anak CP sebaiknya memiliki bagian erapi okupasional. Yang dimaksud dengan terapi okupasional ( okupational theraphy ) adalah perpaduan antara seni dan ilmu pengetahuan ang mengarahkan keikutserataan anak dalam aktivitas tertentu dalam usaha mengembalikan, mengkatkan dan memperbaiki kemampuan kerja, memberikan fasillitas untuk mencapai keahlian tertentu dan fungsi-fungsi lain yang diperlukan untuk program adaptasi dan produktivitas. Dan juga unutk mengembangkan atau mengoleksi keadaan patologis dan meningkatkan serta memelihara kesehatan.
Terapi Okupasional umunya dilakukan oleh seorang terapi okupasional. Namun demikian, guru sebagai pelaksana dan pemeran aktif dalam PBM memiliki peran yang strategis sebagai tenaga bantu dalam terapi okupasional.
    Peran guru dalam terapi okupasional diantaranya adalah :
a.    Melatih anak dalam berbagai kegiatan yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Misal : cara makan, minum, mandi, dsb.
b.    Memberikan kesibukan tangan dalam pelajaran keterampilan , PKK, dsb.
c.    Memberikan kesibukan kaki dalam pelajaran keterampilan, olahraga dan kesehatan, PKK, dsb.
d.    Memberikan pelatihan kerajinan tangan atau pekerjaan tangan.
e.    Melatih gerakan-gerakan lewat kegiatan permainan, kesenian, latihan kerja.
f.    Membantu melatihkan penguasaan alat bantu atau penopang diri pada anak.
Kesulitan-kesulitan yang ditemui guru dalam pelaksaan terapi kupasional, perlu dikonsultasikan dengan tim rehabilitasi yang ada di sekolaha yang bersangkutan atau kepada ahlinya.
G.    Bagian Terapi Bicara
PLB sangat penting untuk memperbaiki bicara dan bahasa anak berkelainan yang membutuhkan. Peran guru PLB antara lain:
1.    Mencari/meneliti kelainan bicara/bahasa;
2.    Membuat diagnosa kelainan bicara bersama-sama tim rehabilitasi yang ada di sekolah;
3.    Menyusun program rehabilitasi;
4.    Membantu melaksanakan sebagian program terapi bicara/bahasa berdasarkan program yang telah disusun, di antaranya dengan cara:
a.    Memberikan latihan pernapasan anak;
b.    Memberikan latihan artikulasi;
c.    Memberikan latihan bahasa;
d.    Memberi latihan phonasi;
e.    Melatih bicara anak, yang meliputi:
1). Mengucapkan bunyi bahasa tertentu
2). Mengucapkan bunyi bahasa tertentu tersebut dalam kata
3). Mengusahakan anak mencapai stabilisasi dalam kata
4). Melatih pemakaikan kata dalam kalimat
5). Mengucapkan kalimat secara monolog
6). Menggunakan bunyi bahasa yang sering dipakai dalam dialog guru-murid di kelas
7). Menggunakan bunyi bahasa dalam pembicaraan sehari-hari
5.    Mengadakan konsultasi secara periodik ke ahlinya
6.    Melengkapi sarana terapi bicara/bahasa di sekolahnya
7.    Mengadakan pencatatan perkembangan peserta didik.
H.    Ruang Keterampilan
1.    Tujuan
Dimaksudkan sebagai upaya menanamkan, menumbuhkan, mengembangkan pengetahuan, keterampilan agar anak mampu memiliki kesiapan dasar dan keterampilan kerja tertentu yang dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun kebutuhan keluarga.
2.    Jenis:
a)    Bimbingan kesibukan praktis
b)    Bimbingan keterampilan sederhana
c)    Bimbingan keterampilan kejuruan
3.    Pelaksanaan mencakup:
a)    Susunan rencana kegiatan bimbingan setiap minggu;
b)    Persiapan saran bimbingan berupa peralatan, dsb;
c)    Pengelompokan siswa sesuai dengan paket bimbingan dan minat serta bakat anak;
d)    Pelaksanaan bimbingan pada hakekatnya melaksanakan kegiatan belajar mengajar bidang studi keterampilan;
e)    Pelaksanaan bimbingan dengan cara bimbingan kelompok atau individua;
f)    Penentuan tempat bimbingan;
g)    Pengumpulan dan penyimpanan kembali sarana/peralatan bimbingan.
I.    Asrama
Menurut Depdikbud (1976), keuntungan sekolah yang dilengkapi asrama bagi anak CP adalah:
1.    Membantu memecahkan problema-problema sosial dari keluarga yang kurang mampu
2.    Membantu memperlancar lokomosi anak
3.    Menghemat waktu dan tenaga
Namun, dalam menyediakan asrama perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
1.    Tempat asrama sebaiknya tidak jauh dari sekolah, agar anak dapat beristirahat lebih cepat, tidak terlambat ke sekolah dan tenaganya dapat disimpan untuk belajar. Namun, apabila asrama jauh, sebaiknya disediakan sarana transportasi seperti bus dan lain sebagainya.
2.    Bagi asrama yang lokasinya menjadi satu dengan sekolah, jalan-jalan menuju sekolah sebaiknya dibuat keras, datar dan tidak licin agar mempermudah lokomosi anak CP yang menggunakan kursi roda atau alat bantu jalan lainnya.
3.    Ruang asrama dibuat yang cukup lapang agar mudah bergerak.
4.    Tempat tidur disesuaikan dengan kondisi anak CP.
4.    Di setiap ruang asrama disediakan beberapa kamar mandi yang mudah dijangkau anak.
J.    Personil Sekolah
Satuan pendidikan anak CP sebaiknya tidak hanya tersedia guru saja, melainkan dilengkapi tenaga ahli lain yang tergabung dalam tim rehabilitasi yang bersifat multidisipliner, yang antara lain meliputi:
1.    Ahli terapi fisik (Physio Therapist)
2.    Ahli terapi okupasi (Occupational Therapist)
3.    Ahli terapi bicara (Speech Therapist)
4.    Ahli keterampilan (Vocational Trainer)

sumber:
Assjari, Musjafak. (1995). Ortopedagogik Anak Tuna Daksa, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Kamis, 06 Oktober 2016

Upaya Bantuan Bagi Anak Cerebral Palsy

UPAYA BANTUAN BAGI ANAK CP-- Macam dan Cara Membina Kemampuan Fisik
Kelainan utama pada anak cerebral palsy terletak pada aspek fisik terutama pada fungsi syaraf otot, sendi, kerjasama sayaf otot tulang dan sendi. Untuk pencegahan terjadinya permasalahan baru maka mereka harus diberikan bantuan, antara lain :
1.    Penguatan Otot
Macam alat bantu yang digunakan untuk menguatkan otot dan melatih fungsi otot dan mendidik otot antara lain :
a.    Alat penonggak/kruk yang dipakai sebagai alat bantu berjalan.
b.    Walking paralel Bar, untuk berlatih berjalan dan dapat dinaik turunkan sesuai kebutuhan.
c.    Stair case, untuk berjalan naik turun tangga.
d.    Walker, untuk melatih berjalan dan membantu fungsi semi mobilitas.
e.    Kursi roda, untuk membantu mobilitas yang emngalami kelumpuhan pada kedua kakinya.
f.    Stand in table, untuk melatih persiapan kegiatan.
g.    Stall bars, untuk melatih kekuatan otot dan koordinasi gerak.
h.    Pulley weight, untuk melatih keakuatan otot baik tangan ataupun kaki.
i.    Tempat tidur.
j.    Alat-alat berbentuk silinder, untuk mendidik otot bereaksi spontan.
k.    Kursi duduk, sebagai penguat ketahanan otot –otot penegak kepala dan leher.
l.    Crawer, melatih anak yang belum kuat merangkak.
m.    Tripod, tongkat berkaki tiga yang terbuar dari kayu atau pipa besi untuk melatih berjalan sebagai peningkatan dari walker.
n.    Belt (sabuk pengaman), untuk memegang anak yang sedang berjalan tanpa alat lain.
o.    Leg skate, untuk menguatkan otot-otot yang menggerakkan sendi lutut dan pinggul.
p.    Bicycle exerciser, untuk melatih otot tungkai dan melatih daya tahan.
Berikut adalah terapi fisik dan terapi okupasi untuk anak CP :
a.    Fisio Terapi
Fisio terapi adalah suatu penyembuhan atau pengobatan bagi penderita kelainan fisik dengan menggunakan tenaga, daya dan khasiat alam. Berbagai khasiat alam tersebut antara lain :
1)    Pemberian fisioterapi mekanoterapi,
2)    Message, yaitu memberikan gosokan pada tempat tertentu yang dapat untuk mempertinggi ketegangan atau kekenyalan otot.
3)    Pemberian terapi dengan tenaga air.
4)    Pemberian terapi dengan menggunakan arus listrik gauan merangsang otot yang lumpuh dan peredaran darah.
5)    Dengan termmoterapi atau sinar panas, untuk pengurangan rasa nyeri dan peningkatan metabolisme.
Sebagai contoh kegiatan latihan penguat otot dalam dalam wujud : anak disuruh mendorong gerobak dan muatannya disesuaikan atau bisa diubah-ubah sesuai kemampuannya, menarik tambang yang diberi pemberat, memutar kincir yang memakai bunyi-bunyian, menahan semprotan air dilakukan dengan permermainan, berenang, dll.
b.    Terapi Okupasi.
Terapi okupasi merupakan pengobatan/penyembuhan/pemulihan melalui kegiatan dan kesibukan kerja. Terapi okupasi juga sebagai sarana pencegahan artinya agar kelainan yang disandang anak CP tidak semakin parah. Dan juga sebagai sarana penyembuhan artinya upayan untuk memaksimalkan potensi dari otot sesuai fungsinya. Selanjutnya sebagai pengembangan kepribadian, watak, dan kreatifitas sebagai sarana mengembangkan bakat, kemampuan bercita-cita, berkarsa dan berkarya. Dengan demikian anak dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya.
Bentuk terapi okupasi, dapat berupa individual maupun kelompok, yang berupa :
1)    Kegiatan sehari-hari (ADL).
2)    Kesibukan tangan dan kaki.
3)    Kerajinan /pekerjaan tangan.
4)    Permainan.
5)    Kesenian
6)    Latihan dasar-dasar ketrampilan kerja.
2.    Memperbaiki Gerak Pada Persendian
Gerakan organ tubuh sangat dipengaruhi oleh fungsi setidaknya persendian tertentu yang terkait dengan anggota gerak tubuh yang bersangkutan.
Bagi anak CP biasanya persendian yang mengalami gangguan adalah pada sendi bahu, sendi siku, sendi jari tangan, sendi pinggul, sendi lutut, sendi jari kaki, sendi pergelangan kaki, sendi pergelangan tangan. Untuk mengetahui apakah sendi yang akan diberikan latihan memiliki kemungkinan gerak tertentu atau tidak, seperti :
a.    Fleksi atau melakukan gerakan keluar poros. (membengkok atau menekuk)
b.    Ekstensi atau melakukan gerakan kembali bersikap semula.
c.    Melakukan gerakan keluar dari garis tengah.
d.    Melakukan gerakan kembali ketengah tubuh.
e.    Melakukan gerakan keluar memutar pada porosnya sendiri dan sebagainya.
Untuk melatih/memperbaiki/menyembuhkan kelainan sendi anak, dapat dilakukan beberapa cara, seperti :
a.    Melakukan Operasi Ortopedi
Operasi ini terutama diperuntukan bagi anak yang kondisi persendiannya kurang berfungsi, mungkin karena salah bentuk atau tidak dapat bergerak sesuai fungsi sendi yang bersangkutan. Kegiatan operasi ortopedi ini selalu diikuti kegiatan latihan gerak/latihan fungsi sendi.
b.    Perbaikan sendi melaui terapi bermain.
Terapi bermain yang menojol digunakan untuk perbaikan sendi adalah dimaksudkan agar dengan bermain anak melakukan aktivitas gerak sesuai dengan tujuan terapi, misalnya menangkap bola, arah terapinya agar anak melakukan gerakan siku lurus kedepan da sebagainya.
c.    Perbaikan sendi melalui fisio terapi.
1)    Perbaikan Sendi dengan hidroterapy
(a)    Hidrokinetik, dimana tekanan air yang mengenai persendian dapat mengurangi kekuatan sendi, membetulkan posisi sendi.
(b)    Hidrotermal, suhu air panas dapat melemaskan sendi sehingga membantu mempermudah latihan gerak sendi.
2)    Perbaikan sendi denga termotherapy, sinar infra merah berpengaruh terhadap kesantaian dan pengobatan radang sendi yang tidak panas.
3)    Perbaikan sendi dengan electro therapy, bagi penyandang cacat pada persendian dapat menggunakan arus listrik frekwensi tinggi.
4)    Perbaikan sendi dengan latihan gerak atau mekano.
Ada gerak pasif dan gerak aktif, gerak pasif dilakukan secara berulang untuk memelihara gerakan sendi ,dan gerak aktif untuk melatih fungsi sendi.
5)    Perbaikan sendi melalui pemijatan, agar gerak sendi bertambah luas dan mudah.
d.    Terapi okupasi.
Tujuan terapi okupasi dalam memperbaiki gerak sendi adalah untuk mencegah kekakuan sendi atau kelainan bentuk anak kearah hesembuhan, memelihara derajat gerak persendian semaksimal mungkin, untuk memelihara kekuatan, khususnya dalam otot-otot yang mengelilingi sendi yang terkena,dll.
Program dan langkah terapi okupasi :
a)    Menentukan posisi tubuh yang baik dan betul selama melakukan kegiatan dan istirahat.
b)    Menentukan cara melakukan kegiatan kerja agar tidak merusak persendian.
c)    Memberikan pekerjaan dengan tidak meletakkan tekanan pada sendi.
d)    Berikan teknik penghematan tenaga.
e)    Adakanlah sistem tukar pekerjaan.
f)    Jangan terlalu lama anak memegang suatu alat atau benda.
g)    Hendaklah mengadakan konsultasi dengan tenaga medis sebelum menyusu program.
Bentuk kegiatan misalnya, melakukan kegiatan dengan berjemur dipagi hari, berbagai macam permainan, kegiatan kerumahtanggaan, pekerjaan tangan atau prakarya.
Hal yang harus diperhatikan antara lain :
1)    Mengenakan pakaian agak longgar.
2)    Perhatikan kondisi mental dan fisik anak.
3)    Pekerjaan dibuat bervariasi atau berirama.
4)    Latihan perlu dilokalisasikan.
5)    Perlu menyusun periode waktu.
6)    Hindarkan latihan yang berlebihan.
7)    Hindarkan ketegangan.
8)    Perhatikan kondisi sendi.
9)    Hindarkan tekanan pada tulang panjang dan punggung.
10)    Sesuaikan kebutuhan alat dengan kondisi anak
3.    Memperbaiki Posisi/Sikap Tubuh
Kecacatan seseorang meskipun dalam kriteria ringan jika tidak mendapat terapi fisik secara berkesinambungan, kondisi itu dapat menjadi semakin berat. Untuk itu perlu adanya latihan fisik ataupun pengaturan posisi anggota badan secara memadai. Pengaturan posisi tubuh yang dimaksud antara lain sebagai berikut:
a.    Posisi Kepala
Posisi kepala harus selalu tegak. Setelah anak dapat mengontrol gerakan kepala dan telah mencapai kereleksaan yang maksimum, baru dimulai dengan kegiatan selanjutnya.
b.    Posisi Tubuh
Tubuh menelentang atau menelungkup dengan posisi kepala tegak, tangan dan kaki kanan atau kaki kiri direntangkan. Pada posisi ini anak akan merasakan langsung adanya latihan persepsi.
c.    Posisi Anggota Tubuh
Kaki dan tangan diperlukan untuk bergerak mobilitas. Posisi kaki dalam berdiri, merangkak dan berjalan, harus dilatih dalam posisi yang baik dan benar supaya memudahkan gerak mobilitas.
d.    Posisi Duduk
Duduk bersila di lantai adalah salah satu cara yang berguna untuk memberikan kerelaksaan atau pelemasan terhadap otot-otot abduksi (otot-otot sebelah luar paha).
e.    Merangkak
Latihan merangkak permulaan dapat mempergunakan alat yang sesuai dengan kondisi anak, misalnya: hight adjustable crowler. Pola merangkak atau koordinasi merangkak yang dipakai adalah pola tangan dan lutut dari karet, sebagai langkah yang harus dilalui.
f.    Posisi Berdiri
Kemampuan berdiri dengan dapat mengontrol tubuh, baik dalam hal keseimbangan maupun dalam menggoyangkan badannya berarti posisi berdiri itu telah mantap. Jika posisi berdiri telah kuat, tahap berikutnya ialah mulai dilatihkan melangkah.
g.    Meloncat-loncat di tempat
Latihan keberanian, keseimbangan atau meloncat-loncat di tempat dengan lantai beralas matras karet busa.
h.    Berjalan
Barjalan dengan alat bantu yang sesuai, yaitu dengan alat bantu berjalan dengan berbagai macam modelnya, tingkat pelatihan berjalan dilakukan dengan memakai palang sejajar/paralel bar, naik turun tangga, meniti jembatan sempit,dsb.
4.    Melatih/Memperbaiki Koordinasi Gerak
Latihan koordinasi gerak diperlukan untuk kelancaran dan ketetapan gerak satu anggota tubuh maupun gerak  beberapa anggota tubuh. Umumnya bila satu otot berkontraksi, otot lawannya harus merentang. Kalau tidak bergerak bagian tersebut menjadi kaku. Kalau kedua-duanya merentang, anggota tersebut akan lumpuh. Kalau syaraf penerima berhenti bekerja maka kesalahan gerak tidak terasa.
Koordinasi juga harus ada antara anggota yang satu dengan anggota gerak yang lain. Kalau seseorang menangkap bola, gerak tangan, telapak, jari tangan, pinggang dan kaki harus tertuju pada maksud tersebut, kalau tidak bola tidak tertangkap.
Macam latihan koordinasi mata dan tangan:
a)    Mengambil dan menyimpan benda-benda besar
b)    Mengambil dan menyimpan benda-benda kecil
c)    Meletakan benda dalam berbagai posisi
d)    Menyusun bentuk-bentuk yang besar sampai yang terkecil
e)    Menyusun urutan dari yang tertinggi ke yang terendah
f)    Menyusun bermacam-macam balok
g)    Menyusun puzzle sederhana
h)    Menyambung titik dengan titik secara vertical
i)    Menggunting, menempel
j)    Menekan bermacam-macam tombol
k)    Menutup dan membuka pintu, dll.
Macam latihan koordinasi mata dan kaki:
a)    Melangkahkan kaki dalam bentuk bulatan-bulatan
b)    Melangkahkan kaki sesuai dengan bentuk telapak kaki yang telah diatur
c)    Menendang bola besar
d)    Menendang bola kecil
e)    Meloncat dan melompat
f)    Berjalan dengan berbagai rintangan, dll.
5.    Melatih Keseimbangan
Cara melakukannya, antara lain:
a)    Anak didudukkan, didorong ke depan, ke belakang, ke samping sesuai dengan kemampuan anak.
b)    Setelah anak agak stabil duduknya, disuruh mengangkat lengannya satu demi satu berganti-ganti atau keduanya sekaligus.
c)    Selanjutnya jika anak sudah dapat duduk, dilanjutkan dilatih keseimbangan sambil menangkap bola atau mengambil sesuatu yang ada di dekatnya.
Contoh kegiatan latihan keseimbangan yang lain misalnya:
a)    Anak diminta berdiri tegak tanpa pegangan
b)    Berdiri dengan satu kaki secara bergantian tanpa berpegangan
c)    Tubuh membentuk posisi seperti pesawat terbang
d)    Berjalan di atas pematang atau papan keseimbangan
e)    Berjalan di lantai,dsb.
B.    Bimbingan Mental dan Sosial Psikologis
1.    Membina Rasa Ketuhanan dan Budi Pekerti
Membina rasa Ketuhanan hakekatnya berbicara masalah kualitas keimanan. Kualitas keimanan seseorang dapat dilihat dari perilaku setiap hari.
Cara membina rasa Ketuhanan pada anak CP, antara lain dimulai dengan menanamkan nilai dan norma iman, karena keimanan mengandung nilai dan norma ketuhanan. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi perisai dari agresi kejahatan, materidan keputusasaan anak dalam hidup. Sifat mudah marah, putus asa, ragu-ragu anak sebagian dikarenakan merasa Tuhannya kurang mengasihi dirinya dirinya, kurang diperhatikan Tuhan atau merasa disiksa Tuhan dalam hidup di dunia. Melalui contoh-contoh yang kongkrit dan sederhana, anak CP dapat ditanamkan rasa Ketuhanan, misalnya dengan memberikan contoh kelemahan orang normal yang cenderung melanggar nilai dan norma.
Bimbingan budi pekerti pada anak CP dimaksudkan agar anak menjadi manusia yang berbudi luhur, sopan santun, andap asor, jujur, berdisiplin, dan memiliki rasa setia kawan.
2.    Membina Konsep Diri dan Pemahaman Diri
Anak CP, hidup dalam lingkungan sosial, ia berkomunikasi dengan lingkungannya, baik lingkungan hidup maupun lingkungan mati. Proses Komunikasi dengan lingkungan sosial inilah yang dapat membuat anak CP dapat memahami dirinya dan dapat memiliki konsep diri. Seandainya ia hidup dalam situasi isolasi diri maka tidak bakal terjadi adanya pemahaman diri dan konsep diri.
Konsep diri merupakan semua ide, pemikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan obyek, tujuan serta keinginanya.  Karenanya konsep diri biasanya akan menghasilkan pemahaman diri.
Konsep diri dan pemahaman diri akan sangat di warnai oleh hasil dari komunikasi sosial, sehingga pada diri anak CP dapat timbul penilaian atas dirinya. Penilaian diri tersebut dalam arti diri sebagai subyek dan diri sebagai obyek. Diri sebagai subyek berarti anak CP merupakan makhluk yang sadar dan aktif, sedang diri sebagai obyek berarti dirinya sebagai bahan renungan (obyek pemikiran).
Untuk dapat mendudukkan diri sebagai subyek dan diri sebagai obyek tersebut, dapat bertolak dari persepsi diri terhadap :
a.    Kondisi fisik diri .
b.    Kondisi psikis diri.
c.    Kondisi sosial diri.
3.    Membina Kemampuan Kosentrasi
Daya konsentrasi sangat dibutuhkan oleh setiap orang dalam melaksanakan kegiatan tertentu, agar menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan. Dampak sekunder kelainan CP, kadang berupa adanya gangguan konsentrasi. Mereka sangat mudah beralih perhatiannya dari suatu obyek ke obyek yang lain. Atau sebaliknya memiliki sifat tekun yang abnormal, dimana sangat susah mengalihkan perhatiannya ke obyek yang baru, sehingga respon terhadap obyek yang baru masih sama dengan respon terhadap obyek yang lama.
Agar dapat menuju perkembangan anak dapat lebih baik, mereka perlu dilatih daya konsentrasinya, antara lain dengan cara sebagai berikut : melalui terapi bermain, melalui bina gerak dan irama, melalui kegiatan terapi, melalui terapi okupasi dan alat peraga yang merangsang anak untuk memusatkan perhatiannya.
4.    Membina Daya Fantasi dan Kreasi
Setiap anak (normal maupun kelainan) memiliki daya fantasi dan kreasi, hanya saja kualitas serta derajat fantasi dan kreativitas itu berbeda satu dengan yang lain. Anak CP hakekatnya juga memiliki daya fantasi dan kreasi sebagai ekspresi dari cipta-karsa dan karya keindahannya. Manifestasinya dapat bervariasi diantaranya banyak diantara mereka yang pandai menggambar, cekatan dalam mengerjakan sesuatu tugas, sementara anak normal sendiri kadang mengalami kesulitan. Pengembangan daya fantasi dan kreasi pada anak CP sangat besar manfaatnya bagi anak di kemudian hari.
5.    Menghapus Rasa Rendah Diri dan Memupuk Harga Diri
Salah satu dampak sekunder dari kelainan CP pada aspek kepribadian adalah pada aspek harga diri yang rendah.
Upaya membantu menghapus rasa rendah diri dan memupuk harga diri, antara lain dengan : Memberi kesempatan berhasil ; Menanamkan gagasan ; Mendorong aspirasi, Memberikan keteeladanan dan contoh orang-orang yang memiliki kondisi yang sama tetapi berhasil dalam belajar, bekerja dan sukses dalam hidupnya.
6.    Membina Perasaan dan Sikap Sosial
Kepada anak-anak CP, perlu dibina perasaan sosial dan sikap sosial yang positif. Paling tidak ada 2 aspek yang perlu ditanamkan kepada mereka, yaitu (a) kemampuan mengadakan relasi sosial, seperti (1) kemampuan bergaul, (2) kemampuan bekerjasama dengan orang lain, (3) dimilikinya peran sosial yang sesuai dan jelas, (4) kemampuan mengadakan penyesuaian sosial, (b) kemampuan mengadakan integrasi sosial.
7.    Membina Kemampuan Bicara
Terapi bicara, merupakan suatu usaha penyembuhan bagi mereka yang mengalami kelainan atau hambatan dalam bicara, bahasa dan irama melalui latihan yang disesuaikan dengan kelainannya.
Anak CP yang termasuk memperoleh layanan terapi bicara antara lain :
a.    Anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa (delayed speech and language development).
b.    Anak yang bicaranya gagap (atuttering)
c.    Anak yang mengalami gangguan bicara karena kelainan mental.
d.    Anak yang mengalami kelainan bicara karena mengalami tuna dengar.
e.    Anak yang celah langit-langitnya mengalami kelainan (cleft palate).
f.    Anak yang kehilangan kemampuan berbahasa (aphasia).
g.    Kelainan suara (voiced disorder).
C.    Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (ADL)
Ruang lingkup latihan ADL bagi anak CP antara lain ( Bleck, EE, Nagel D.A.,1982; John Umbreit, 1983; Kiphard Ej, 1980) adalah sebagai berikut :
1.    Kegiatan di tempat tidur         6. Kegiatan berpakaian
2.    Kegiatan di kursi roda            7. Kegiatan berdiri dan duduk
3.    Kegiatan berpergian            8. Kegiatan berjalan
4.    Kegiatan perawatan diri sendiri    9. Kegiatan menyimpan
5.    Kegiatan makan            10. Kegiatan pergaulan
Anak – anak  CP sangat perlu memperoleh latihan ADL dengan berbagai macam kemampuan diatas serta latihan ADL disesuaikan dengan kebutuhan yang ada pada masing-masing anak.
1.    Latihan berjalan dengan kruk (crutch)
Untuk dapat berjalan dengan kruk, diperlukan adanya otot – otot tangan yang kuat, karena harus menahan beban berat badan. Cara latihan penggunaan kruk, dapat di ikuti langkah – langkah sebagai brtikut :
a.    Posisi tripot, artinya kedua kaki kruk berada di samping badan agak condong ke depan, sementara kedua kakinya berada agak di belakang.
b.    Berikutnya kaki diangkat dan turun secara bergantian di tempat untuk mencoba keseimbangan tubuh.
c.    Latihan mulai berjalan.

2.    Latihan menggunakan kursi roda ( wheel chair )
Sebelum berjalan menggunakan kursi roda, terlebih dahulu melakukan latihan-      latihan sebagai berikut :
a.    Latihan duduk seimbang
b.    Cara  berpindah tempat dari atas kursi roda ke bawah
c.    Cara keluar dan masuk pintu


3.    Latihan makan
Sebelum melakukan bimbingan dan latihan makan untuk anak-anak CP, terlebih dahulu diketahui pola dan cara makan anak-anak normal. Apabila ada kelainan, kelainan itu dijadikan dasar untuk menetukan cara melatihnya. Misalnya :
a.    Cara minum dengan dot pada botol.
b.    Cara makan makanan yang berupa cair.
c.    Cara makan dengan sendok yang digerakkan dari gelas atau piring.
d.    Cara makan makanan yang lunak, agak keras, berupa biji-bijian atau sebagainya.

Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain :
a.    Langkah awal sebelum program makan :
1)    Berikan rangsangan pada organ mulut.
2)    Gunakan jari manis atau telunjuk, gosokkan sedikit pada mulut, dan tangan dikeluarkan, biarkan makanan ditelan.
3)    Usaplah dengan sedikit menekan langit-langit dari belakang ke depan, jari dikeluarkan dan dibiarkan anak menelan, lalu lakukan berulang-ulang.
4)    Latihan menutup bibir.
b.    Menentukan posisi atau sikap makan
Beberapa posisi yang dapat dijumpai pada anak CP sebagai berikut :
1)     Posisi anak CP yang belum mampu menguasai kontrol kepala, dapat dilakukan sebagai berikut :
•    Posisi berhadapan
•    Posisi duduk samping
2)    Posisi anak CP yang sudah mampu duduk sendiri, posisi ini dapat dilakukan dengan cara :
•    Dengan bantuan pada bahun dan tangan
3)    Anak CP yang sudah dapat mengontrol kepala
c.    Teknik memberi makan
Dalam memberikan makanan ( menyuap ), arah sendok perlu diperhatikan, sendok harus lurus dari arah depan, sejajar dengan mulut.
d.    Peralatan makan
Pada anak tertentu kadang membutuhkan peralatan khusus, senkhusus berbentuk bulat, tidak terlalu cekung. Piring atau mangkuk sebaiknya dari bahan melamin, plastik atau alumunium.

4.    Latihan merapikan diri
Anak – anak CP memerlukan latihan dalam hal merapikan diri misalnya, menyisir rambut, merias rambut, merias diri, memakai sandal, memakai alat-alat khusus dan lain-lain.

D.    Peran Guru PLB dalam Membina Kemampuan Fisik dan Psikis Anak CP
Dalam rangka pelayanan rehabilitasi dan pendidikan bagi anak CP, para guru PLB memiliki peran yang strategis, yaitu:
a)    Menyediakan data hasil pengamatan, tes dan/atau interview mengenal kemampuan dan ketidakmampuan fisik dan psikis anak.
b)    Mengadakan konsultasi dan/atau tukar pikiran dengan teman sejawat (guru lain) tentang kondisi anak tertentu pada setiap ada kesempatan.
c)    Menyiapkan program layanan/bimbingan/latihan tertentu pada anak, lewat kegiatan-kegiatan yang memiliki makna teraputik.
d)    Mengadakan konsultasi dengan tenaga profesional (tindakan rujukan) sesuai dengan kebutuhan.
e)    Atas dasar saran dari tenaga profesional dan sesuai dengan kemampuan guru sendiri, guru melaksanakan program bimbingan atau latihan kepada anak tertentu secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar bidang studi tertentu.
f)    Mengadakan evaluasi secara periodik atas kemajuan yang dicapai anak.
g)    Membuat catatan tertentu (terutama yang cenderung menonjol) tentang masing-masing anak dalam suatu file tertentu.
h)    Melaporkan kondisi anak dan kemajuan-kemajuan yang dicapai anak kepada orangtua.
i)    Setiap kesulitan/hambatan pelaksanaan program, ada baiknya dibicarakan dengan teman sejawat dan/atau konsultasi kepada tenaga profesional, sehingga anak segera mendapatkan layanan yang sesuai.
sumber:
Assjari, Musjafak. (1995). Ortopedagogik Anak Tuna Daksa, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Rabu, 05 Oktober 2016

Identifikasi Anak Cerebral Palsy



A.    Pengertiaan Identifikasi
Anak CP memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak normal lainnya, walaupun demikian mereka memiliki kebutuhan yang sama, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, salah satunya adalah melalui pendidikan.
Dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak CP, diperlukan tersedianya informasi/ data yang tepat yang dapat diperoleh dari kegiatan identifikasi. Yang dimaksud dengan identifikasi adalah proses pengumpulan informasi / data tentang penampilan individu yang relevan untuk pembuatan keputusan (Ronald L. Taylor, 1984) baik yang dilakukan oleh guru umum, guru khusus, psikolog pendidikan, spesialis, terapis dan personal lain yang berkepentingan dengan program pendidikan anak.
John Salvia & James E. Ysseldyke (1981) mendefinisikan istilah identifikasi sebagai suatu proses untuk menentukan dan memahami penampilan individu-individu dan lingkungannya. Identifikasi sebagai suatu proses, selalu meliputi kegiatan evaluasi dan iterpretasi, baik yang dilakukan oleh orangtua, guru, maupun personal sekolah lainnya.
B.     Tujuan Identifikasi
Untuk memperoleh data / informasi tentang anak dan lingkungan yang berguna untuk mengetahui sebab-sebab kelainan, menentukan diagnosa tipe kelainan, kemampuan dan ketidakmampuan fisik dan psikis anak serta untuk merancang program perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing anak.
Selain hal tersebut, identifikasi juga dimaksudkan untuk membantu proses penyembuhan atau mengurangi masalah-masalah yang timbul akibat kecacatannya. Bentuk layanan tersebut antara lain terapi bicara (speech therapy), terapi fisik (physio therapy), terapi musik (music therapy), terapi okupasi, terapi bermain, maupun dalam bentuk sosial psikologis.
C.     Ruang Lingkup Identifikasi
1)      Identitas anak dan keluarga
Didalamnya mencakup nama, ttl, jenis kelamin, no.telp, dokter yang menangani, nama orangtua, pekerjaan orang tua, hubungan darah, dll.
2)      Riwayat Anak
Didalamnya mencakup :
a)      Riwayat kelahiran ibu dan anak semasa masih dalam kandungan
-          Umur ibu waktu mengandung
-          Kondisi kesehatan ibu secara umum
-          Kecelakaan / benturan yang dialami
-          Lamanya ibu mengandung
-          Keluhan ibu waktu mengandung
b)      Riwayat kelahiran anak
-          Usia bayi waktu dilahirkan
-          Siapa yang membantu kelahiran
-          Berat badan bayi waktu lahir
-          Kemungkinanadanya bantuan pernafasan
-          Reaksi bayi yang muncul pertama kali setelah dilahirkan
c)      Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
-          Kelainan yang tampak pada kepala, tangan, jari tangan, kaki, jari kaki
-          Kemampuan menggerakan anggota gerak tubuh
-          Kemauan meminum ASI
-          Bagaimana grafik berat badan anak
-          Imunisasi apa saja yang pernah diperoleh
-          Pada usia berapa ASI dihentikan
-          Kemampuan / kebiasaan makan anak
3)      Kemampuan dan Ketidakmampuan Fisik Anak Sekarang
Hal ini merupakan indikator penting dalam menetapkan apakah seseorang mengalami kelainan CP atau kelainan jenis lain (Tunanetra, tunarungu, tunagrahita,dll). Artinya bahwa pada anak CP kondisi fisiknya harus ada gejala-gejala dari gerakan otot-otot yang disebabkan karena kerusakan dalam otak (Soeharso, 1998). Tanpa ada hal tersebut maka pembuatan diagnosa CP dapat diragukan.
Anak CP dapat juga memiliki gejala-gejala pada fungsi mata, telinga, kecerdasan rendah, dll. Akan tetapi pada CP selalu terdapat gejala-gejala pada pergerakan otot, sedang anak yang mempunyai tuna pendengaran atau kecerdasan belum tentu CP. Kondisi fisik yang perlu memperoleh perhatian dalam mengadakan identifikasi antara lain sebagai berikut :
a)      Keadaan otot
Otot pada tubuh adalah jaringan yang menghasilkan tenaga akibat proses memendek dan memanjang otot. Proses ini biasanya disebut dengan istilah kontraksi. Akibat adanya kontraksi otot, persendian dimana otot tersebut melekat dapat digerakkan. Berikut ini didalam melakukan identifikasi kemungkinan adanya kelainan otot, yang perlu diperhatikan antara lain :
1)      Kemungkinan adanya kelainan akibat tonus otot
Apabila sendi digerakkan secara pasif tonus dirasakan kurang dari normal atau tahannya berkurang, maka dikatakan hipotonus (ketegangan otot kurang dari normal), sebaliknya bila sendi digerakan secara pasif ternyata tonus bertambah atau lebih tegang maka dikatakan hipertonus (ketegangan otot lebih dari normal)
2)      Kemungkinan adanya kelainan kinematik
Gerak ini meliputi sifat gerak dan pola gerak. Sifat gerak meliputi kecepatan dan kelambatan gerak sendi, sedang pola gerak lebih ditunjukan pada jenis gerakan yang ditimbulkan sesuai dengan kemungkinan pola gerak masing-masing persendian. Bentuk dari kelainan ini antara lain :
-             Gerak chorea, yaitu gerakan cepat, mendadak, tidak disadari dan tidak terkontrol, serta tidak jelas tujuannya.
-             Gerak athetosis, yaitu gerak yang tidak disadari, gerakannya lambat seperti gerakan cacing, kadang irama aplitudonya besar sehingga disebut gerak chorea tipe balistik.
-             Gerak distonia, yaitu gerakan lambat akibat tonus yang berlebihan.
-             Gerak tremor, yaitu gerakan yang iramanya kecil-kecil secara bergantian antara posisi otot.
-             Gerak ataxia, yaitu gerakan dengan gangguan keseimbangan sehingga tubuh tidakstabil dalam satu posisi yang diambil.
3)      Kemungkinan adanya gerakan oleh karena kelumpuhan otot anggota gerak
Suatu gerakan tubuh yang dipengaruhi oleh adanya kelumpuhan otot biasanya akan tampak adanya gerakan yang tidak normal. Bentuk kelainannya adalah :
-                Kelumpuhan monoplegia, yaitu kelumpuhan yang mengenai satu anggota gerak saja (anggota gerak atas atau bawah)
-                Kelumpuhan paraplegia, yaitu kelumpuhan otot yang mengenai kedua anggota gerak bawah atau kaki.
-                Kelumpuhan diplegia, yaitu kelumpuhan yang mengenai kedua anggota gerak. Biasanya yang terkena petama adalah kaki (berat), lalu lengan (agak ringan)
-                Kelumpuhan hemiplegia, yaitu kelumpuhan yang mengenai separo atau setengah anggota gerak badan, dapat sebelah kanan atau kiri.
-                Kelumpuhan triplegia, yaitu kelumpuhan yang mengenai tiga anggota gerak, baik dua ditangan satu dikaki, maupun sebaliknya.
-                Kelumpuhan tetraplegia/quadriplegia, yaitu kelumpuhan yang mengenai keempat anggota gerak tubuh.
B.  Keadaan persendian
Gangguan persendian yang dialami oleh anak-anak cerebral palsy, umumnya terjadi akibat lamanya otot yang ada di sekitar sendi tersebut tidak digerak-gerakkan. Jadi gangguan persendian tersebut ada hubungannya dengan gangguan fungsi otot syaraf.
Adanya kelainan sendi yang disebut hipermobility joint, biasanya disebabkan oleh adanya tonus otot yang lemah atau lembek. Karena adanya tonus otot yang kuat dan telah lama tidak pernah digerakkan. Pada anak cerebral palsy, persendian yang sering mengalami gangguan kelainan fungsi adalah pada :
1.      Sendi bahu
2.      Sendi siku
3.      Sendi pergelangan tangan
4.      Panggul/panggul paha
5.      Sendi jari tangan
6.      Sendi lutut
7.      Sendi pergelangan kaki
8.      Sendi jari kaki
Pada orang normal, biasanya persendiannya memiliki kemampuan gerak yang tertentu, yaitu:
1.      Gerak sendi  fleksi  dan ekstensi
Gerak fleksi, yaitu gerak memperkecil sudut, gerak ekstensi, yaitu gerak memperbesar sudut diantara dua bidang segital (bidang yang sejajar dengan bidang medial).
Otot yang melakukan gerakan- gerakan tersebut dinamakan otot betul (muskulus fleksor) dan otot hedang (muskulus ekstensor).
2.      Gerak sendi abduksi dan gerak adduksi
Gerak abduksi, merupakan gerakan  kesamping, Biasanya diartikan juga gerak yang menjauhkan bagian rangka dari tengah badan. Gerak adduksi yaitu gerakan ke tengah yang merupakan gerak mendekatkan bagian rangka dari tengah badan.
Otot-otot yang melakukan gerakan tersebut dinamakan penggerak ke samping (muskulus abduksor) dan penggerak ke tengah (muskulus adduksor).


3.      Gerak rotasi
Gerak rotasi merupakan gerak perputaran atau gerak sekeliling sumbu panjang suatu bagian rangka , atau sekeliling sumbu yang hampir terhimpit dengan sumbu panjang.
Otot-otot yang melakukan gerakan rotasi dinamakan otot pemutar (muskulus rotator).
4.      Gerak sirkumduksi
Gerak sirkumduksi merupakan gerak lingkar atau gerak kombinasi antara gerak yang telah diketengahkan diatas. Pada bagian kerangka membuat suatu bentuk seperti kerucut yang mangkuknya  terdapat pada tempat sendi. Ada beberapa istilah gerakan yang mengalami perubahan nama pada beberapa pada daerah tertentu, misalnya:
1.      Anterfleksi dan retrofleksi : pengganti istilah gerak fleksi dan ekstensi  yang ada pada sendi bahu dan pangkal paha.
2.      Abduksi ulnaris dan baduksi radialis :  digunakan pada gerakan pangkal tangan, sebagai pengganti istilah abduksi dan adduksi tangan.
3.      Torsio : istilah pengganti istilah rotasi tubuh
4.      Endrorotasi lengan bawah yang disebut pronasi, sedang eksorotasi pengganti istilah supinasi  yang berarti gerak yang menelungkupkan lengan mulai dari siku, sedang sendi dan ujung lengan menetap di suatu tempat, istilah pronasi berarti gerakan kebalikannya.
Kegiatan identifikasi terhadap kemampuangerak sendi, sangat perlu dilakukan, karena dengan data yang diperolah akan umenjadi dasar dalam program rehabilitas selanjutnya yang harus diikuti oleh anak yang bersangkutan.
Pola gerak pada sendi untuk bisa diketahui kelainan sendi:
1.                  Sendi bahu
Sendi bahu normal memiliki empat kemungkinan gerak :
-                      Gerak abduksi dan adduksi
-                      Gerak fleksi dan ekstensi atau gerak anterfleksi dan retrofleksi
-                      Gerak rotasi
-                      Gerak sirkumduksi
2.                  Sendi siku
Sendi siku mempunyai dua kemungkinan gerak:
-                      Fleksi dan ekstensi
-                      Supinasi dan pronasi

3.                  Sendi pergelangan tangan
-                      Fleksi dan ekstensi
-                      Gerak fleksi penyamping, yaitu gerak menelungkupkan atau menggerakkan telapak tangan kearah samping dengan posisi telapak tangan seperti orang yang sedang mengangkat tangan dengan telapak tangan terbuka menandakan perpamitan sambil mengucapkan dada…”
-                      Gerak sirkumduksi
4.                  Sendi panggul/ pangkal paha
Memiliki kemungkinan gerak yang hampir sama dengan sendi bahu.
5.                  Sendi jari tangan
Memiliki tiga kemungkinan gerak yaitu:
-                      Fleksi dan ekstensi
-                      Abduksi dan adduksi
-                      Sirkumduksi
6.                  Sendi lutut
Memiliki kemungkinan gerak fleksi dan ekstensi yaitu gerak melengkung dan meluruskan posisi lutut.
7.                  Sendi pergelangan kaki
Sendi ini memiliki dua kemungkinan gerak, yaitu:
-                      Gerak fleksi dan ekstensi
-                      Inversi dan eversi yaitu gerak sendi pergelangan kaki yang memutar ke dalam dan keluar.
8.                  Sendi jari kaki
Sendi ini memiliki kemungkinan gerak yang sama dengan sendi jari tangan. Hanya saja tidak ada gerak opotemen.
          Dengan mengetahui kemungkinan gerak, maka di dalam mengadakan identifikasi dapat dilakukan percobaan gerakan tertentu sesuai dengan kemungkinan gerak pada persendian. Apabila tidak dapat dilakukan oleh anak tersebut merupakan gejala kemungkinan adanya kelainan persendian. Gejala kelainan antara lain:
a.                   Persendian yang diukur tidak dapat digerakkan sama sekali (keadaan kontraktur),
b.                  Selama sendi digerakkan, anak menunjukkan adanya nyeri pada persendian, akibat hambatan rentang gerak sendi (range of motion).
c.                   Gerak sendi yang lambat.
d.                  Adanya bentuk sendi yang tidak normal (deformitas).
C.       Kelainan fungsi syaraf
Kondisi fisik lain yang perlu identifikasi adalah tunggal syaraf khususnya pada organ otot yang ada kaitannya dengan organ gerak tubuh.
1.   Derajat kelainan syaraf
a.                   Derajat awal disebut neourpraksia dimana syaraf hanya mengalami kelayuhan sementara akibat adanya benturan bengkak. Sementara jaringan syaraf dalam keadaan normal dan kondisi ini apabila memperoleh pengobatan dapat normal kembali.
b.                  Derajat selanjutnya, disebut axonotnesis, dimana serabut syaraf (axon) mengalami kerusakan, sementara pembungkusnya yang di luar masih masih dalam keadaan normal. Kondisi ini biasanya sulit memperbaiki fungsinya untuk menjadi normal kembali.
c.                   Derajat ketiga
Disebut neuronotnesis, lebih berat dari derajat awal dan selanjutnya, dimana selaput pembungkus nyelin dan berkas axon syaraf keduanya mengalami kerusakan, sehingga fungsinya tidak dapat kembali. 
2.   Kemungkinan kelainan syaraf yang berhubungan dengan anggota gerak tubuh
Kelainan fungsi syaraf akan mempengaruhi target organ yang dipersyarafi pada anak-anak CP sangat sering dijumpai di lapangan. Apabila fungsi motorik syarafnya menurun, maka otot yang dipersyarafi akan menjadi lebih normal. Fungsi motorik syaraf dikendalikan oleh otak. Apabila kendali motorik otot hilang maka fungsi syaraf akan berlebihan, sehingga organ otot yang diurus akan menjadi hipertonus atau tonus yang meningkat.yang menimbulkan kelainan fungsi gerak kenematik.
Manifestasi gangguan fungsi syaraf yang mudah dikenal adalah : otot mudah  lembek dan kekuatan otot nol, keadaan otot ini disebut fleksid dan gerakan sendi aktif tidak ada. Dalam kegiatan identifikasi, kemungkinan adanya kelainan syaraf dalam bentuk adanya otot yang fleksid dan spastic ini perlu menjadi salah satu pusat perhatian, terutama pada otot sendi yang ada pada anggota gerak tubuh karena akan sangat mendasari fungsi kemampuan monolog diri sendiri.
3.   Kemungkinan kelainan syaraf yang berhubungan dengan organ bicara
Derajat gangguan bicara:
a.          Anak tidak mampu mengikuti dan mengerti rangsangan benda visual, bunyi suara, baik rangsangan itu berupa benda visual, bunyi suara, atau lainnya. Derajat kelainan pada anak yang mengalami gangguan dalam menerima rangsangan sensoris semacam ini disebut aphasia sensoris.
b.         Ada anak  yang dapat menerima dan mengerti rangsangan yang diterima, tetapi fungsi motorisnya tidak mampu mengendalikan gerak otot bicara. Akibatnya tidak terjadi respon verbal dalam bentuk kata-kata. Gangguan semacam ini termasuk gangguan motoris pada otot bicara, aphasia motoris.
c.          Ada anak yang mampu menerima rangsangan, mengerti dan mampu mengeluarkan kata-kata, akan tetapi respon verbal yang diberikan tidak jelas atau tidak sempurna.
4.   Kemungkinan kelainan syaraf yang berhubungan dengan fungsi pendengaran dan penglihatan
Gejala gangguan pendengaran dan penglihatan ini sering dijumpai pada anak-anak cerebral palsy. Untuk itu didalam mengadakan indentifikasi, sangat penting dilakukan penyanderaan pada fungsi mendengar dan fungsi melihatnya,
5.   Kemungkinan kelainan syaraf yang berhubungan dengan sikap tubuh
Anak-anak CP kadang-kadang menunjukkan gejala sebagai berikut:
a.                Sikap leher angsa (swan neck)
Terjadi akibat gerak refleksi otot leheryang tidak disadari dan tidak dimanfaatkan untuk mengontrol posisi kepala secara berimbang.
b.               Sikap katak
Terjadi Karena adanya kelebihan dari anggota gerak atas dan bawah.
c.                Sikap asimetris dinamis
Terjadi pada tipe athetoid akibat estafet kontraksi otot yang salah, yang dimulai dari primitive reflek asimetris pada bayi menjadi patologis.
d.               Kaki penyilang
Terjadi adanya ketegangan otot pada sisi dalam yang berlebihan, sehingga sikap kaki saling bersilang.
D.                Kelainan koordinasi atau kerjasama antara otot, sendi syaraf
Koordinasi diperlukan untuk kelancaran dan ketepatan gerak, karena kurangnya koordinasi otot dan syaraf sesuatu anggota tubuh berakibat kaku dan canggungnya gerak anggota tubuh tersebut. Segala gerak bertujuan, memerlukan koordinasi. Seperti koordinasi antara anggota gerak yang ada pada seorang anak yang mengalami cerebral palsy, harus ikut menjadi salah satu sasarannya yang diidentifikasikan.
E.                 Kelainan gerak pada anak balita
Dalam identifiksi kelainan anggota gerak yang tidak nyata pada anak balita termasuk kegiatan yang sulit. Namun demikian berhubung pertolongan rehabilitasi  yang diberikan lebih dini dapat lebih berhasil (Soeharso, 1988), maka kegiatan identifikasi padda anak dibawah lima tahun harus dilaksanakan. Perkembangan gerakan pada anak normal tidak terlepas dari dari prinsip-prinsip sebagai berikut:
-                      Perkembangan gerak, dimulai dari bagian proksimal (pangkal) menuju kebagian yang distal (teru Jung/feriferal)
-                      Dimulai dari sikap fleksi menuju sikap ekstensi
-                      Bahwa perkembangan anak ada tahapan-tahapan tertentu dimulai dari satu tahap menuju tahap berikutnya berlangsung secara berurutan. Misalnya : tahapan perkembangan dapat duduk, kemudian berdiri dengan berpegangan, diteruskan berdiri tanpa berpegangan , berjalan, dan seterusnya sesuai dengan usia perkembangannya
-                      Perbedaan individual, artinya walaupun tahapannya sama antara anak satu dengan yang lain tetapi pencapaiannya berbeda-beda tiap anak. Misalnya: ada anak mampu mengangkat kepala pada usia 14 minggu (anak di desa) ada pula yang 18 minggu (anak di kota)
-                      Perkembangan dini merupakan fondasi untuk perkembangan berikutnya. Misalnya: sebelum dapat berjalan terlebih dulu harus bisa berdiri.
Kegiatan identifikasi kemampuan gerak anak balita di Indonesia, dapat menggunakan tabel “batas usia pencapaian” perkembangan hasil penelitian Departemen Kesehatan R.I (1990). Berikut tabel yang dimasksud :
No
Keamanan perkembangan
Batas usia



Desa
Kota
1
Gerakan yang sama
2 mg
2 mg
2
Mengangkat kepalan dengan tegak
14 mg
18 mg
3
Duduk dengan kepala tegak
15 mg
22mg
4
Mengangkat dada
20 mg
22mg
5
Duduk tanpa penyangga selama 30 detik
8 mg
9 bln
6
Bediri dengan berpegangan selama 0 detik
11 mg
10 bln
7
Berjalan dengan berpegangan
1 thn
1 thn
8
Berdiri tanpa berpegangan selam 30 detik
1.5 thn
1.5 thn
9
Berjalan dengan baik
1.5 thn
1.5 thn
10
Berjalan mundur sedikitnya 5 langkah
2 thn
2 thn
11
Naik tangga dengan berpegangan
2 thn
2.5 thn
12
Melempar bola dari atas kepala
3.5 thn
4 thn
13
Berdiri satu kaki tanpa berpegangan selama 2 detik
3 thn
3 thn
14
Berjalan jinjit
3.5 thn
3thn
15
Menangkap bola


Gambar 10 : Batas Usia tercapainya Kemampuan Perkembangan GERAK KASAR Anak Balita Menurut Tipologi Wilayah (Sumber DEPKES, 1990).

           No
Keamanan perkembangan
Batas usia



Desa
Kota
1
Mengikuti gerakan obyek dengan menggerakkan kepala
6 mg
8 mg
2
Bermain dengan kedua tangan
12 mg
14 mg
3
Menggenggam
14 mg
14 mg
4
Memberikan reaksi ke arah sumber-sumber cahaya
14 mg
12 mg
5
Meraih mainan didekatnya
22 bln
8 bln
6
Memindahkan benda dari tangan satu ke tangan lain
7 bln
11 bln
7
Memukul benda
9 bln
1.5 thn
8
Mengambil benda kecil dengan jari telunjuk dan ibu jari
1 thn
2 thn
9
Menyusun tiga buah kubus tanpa jatuh
2 thn
4.5 thn
10
Mencontoh, membuat gambar garis lurus
3.5 thn
5 thn
11
Mencontoh membuat lingkaran
4 thn
5 thn
12
Memcontoh membuat garis silang
4.5 thn
6 thn
13
Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh bergambar
5.5 thn
6thn
14
Mencontoh gambar bujur sangkar
5 thn
6 thn
15
Menggambar orang dengan 6 bagian tubuh tergambar
6 thn
6thn
Gambar 11: Batas Usia tercapainya Keamampuan Perkembangan GERAk HALUS Anak Balita Menurut Tipologi Wilayah (Sumber DEPKES, 1990)
F.         Ketidakmampuan dalam kegiatan hidup sehari-hari
Anak cerebral palsy sering mengalami hambatan dalam kegiatan sehari-hari (ADL) hal ini akibat dari kelainan yang mereka miliki. Menurut Soeharso (1982) dan Buchwald (1952) , hasil identifikasi di bidang ADL sangat penting untuk mengetahui kebutuhan rehabilitasi dan pendidikan anak yang bersangkutan, seperti terapi okupasional, terapi fisik, maupun pelaksanaan pendidikan bidang studi keterampilan.
            Inti dari identifikasi di bidang ADL adalah untuk (a) mengetahui fungsi-fungsi keperluan tubuh, (b) fungsi jari-jari dan tangan, dan (c) fungsi gerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Ruang lingkup materi identifikasi CP di bidang ADL antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.      Kegiatan di tempat, terdiri dari :
a.       Kegiatan di tempat tidur
b.      Kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan toilet
c.       Kegiatan makan
d.      Kegiatan memakai dan melepas pakaian
e.       Kegiatan yang menggunakan tangan
f.       Kegiatan yang menggunakan kursi roda
g.      Kegiatan meninggikan
2.      Kegiatan berjalan, meliputi :
a.       Berjalan
b.      Gaya berjalan
c.       Pendidikan
d.      Kegiatan perjalanan (traveling)
Ruang lingkup identifikasi untuk anak CP di bidang ADL meliputi :
1.      Identitas anak
2.      Tes kegiatan diatas tempat tidur
3.      Tes mengenakan dan melepas pakaian
4.      Tes untuk kebersiahan badan
5.      Tes menggerakkan jari tangan :
a.       Tes persiapan
b.      Tes memakai tanagn
c.       Tes makan dan minum
d.      Tes menulis
6.      Tes bergerak
a.       Tes denagn kursi roda
b.      Tes berjalan, termasuk gaya berjalan
c.       Tes mendaki
4)      Identifikasi Aspek Psikis Anak
Tujuan kegiatan identifikasi psikis dalam hal ini lebih bersifat pendukung yang berguna untuk menyusun proram rehabilitasi dan pendidikan anak selanjutnya. Dari beberapa literatur yang membahas temtang psikis anak yang diduga cerebral palsy seperti Budi Anna Keliat (1992), Soeharso (1982, 1952), Direktorat Rehabilitasi Penderita Cacat Ditjen, Bihrehsos, DEPSOS, (1991), Viola E. Cardwell, (t.th), setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu diadakan identifikasi, yaitu aspek kecerdasan, kepribadian dan perilaku.
a.                  Identifikasi kecerdasan
Kecerdasan atau intelegensi merupakan kemampuan umum yang dimiliki individu untuk berbuat dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional dan mengerjakan sesuatu sesuai dengan lingkungan (David Wechsler, dalam Thulus Hidayat, 1982).
Identifikasi kecerdasan anak yang mengalami kelainan cerebral palsy tidak begitu mudah dilakukan, terutama apabila anak tersebut juga mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, dan kecakapan berbicara. Maka harus memilih suasana emosi anak yang dalam keadaan tenang dan dilakukan oleh petugas yang memiliki kewenangan dalam melakukan pemeriksaan kecerdasan. Hal yang perlu dipertimbangkandalam melakukan pemeriksaan kecerdasan anak CP adalah tidak mencari kelemahan apa yang dimiliki oleh anak melainkan kemampuan “sisa” yang mana yang masih memungkinkan untuk mengikuti pemerikasaan kecerdasan. Dengan demikian kemampuan penglihatan , pendengaran dan kemampuan berbicara ikut menentukan strategi dalam pemerikasaan kecerdasan anak.

b.                  Identifikasi kepribadian
Penyimpangan yang diketemukan dari identifikasi kepribadian, menunjukkan perlunya pembinaan pribadi pada anak CP yang bersangkutan. Stuart dan Sundeen (1991) memberikan contoh individu yang mempunyai kepribadian yang sehat dengan karakteristik sebagai berikut :
1.                  Memiliki gambaran diri yang positif
2.                  Memiliki ideal diri yang realistis
3.                  Memiliki konsep diri yang positif
4.                  Memiliki harga diri yang wajar
5.                  Memiliki kepuasan penampilan peran
6.                  Memiliki identitas yang jelas
Hasil penelitian Cruickshank (dalam Viola E. Cardwell, t.th) bahwa sebagian besar anak-anak CP kurang bahkan hampir tidak memiliki karakteristik yang disebutkan diatas. Hasil penelitian Glick (dalam Viola E. Cardwell, t.th) menyatakan bahwa sekitar 20 persen anak CP yang diteliti memiliki ciri kepribadian sebagai berikut :
1.                  Sikapnya yang tidak realistis
2.                  Perasaan tegang yang hebat
3.                  Ketidakmatangan yang dominan
4.                  Rasa takut yang berlebihan
5.                  Rasa rendah diri yang kuat
6.                  Toleransi yang sedikit terhadap kegagalan
7.                  Hambatan dalam hubungan inter personal
8.                  Tidak ada motivasi
c.                   Identifikasi perilaku
Aspek psikis lain yang perlu diidentifikasi pada anak CP adalah perilaku anak baik perilaku yang merujuk pada kognitif, afektif, maupun psikomotor. Hal-hal yang perlu diidentifikasi antara lain :
1.                  Kemungkinanadanya gangguan persepsi dan berfikir
2.                  Kemungkinan adanya gangguan dalam pembentukan konsep
3.                  Kemungkinan adanya gangguan pada kemampuan untuk mendengarkan/merespon suatu rangsang tertentu
4.                  Kemungkinan adanya sifat tekun yang tidak wajar
5.                  Kemungkinan adanya susah menahan diri
Aspek-aspek perilaku yang disebut diatas hampir dimiliki oleh semua anak CP (dalam Viola E. Cardwell, t.th).
d.                  Perkembangan Bicara, Bahasa dan Kecerdasan balita
Untuk identifikasi ada tidaknya gangguan perkembangan bicara, bahasa, dan kecerdasan balita salah satu sarana adalah menggunakan instrumen Denver Development Screening Test (DDST) (Frankenburg, 1975). Alternatif lain, khususnya di Indonesia ada yang menggunakan“ Buku Pedoman Deteksi dan Stimulasi Dini” yang dikembangkan Departemen Kesehatan R.I.
Dengan instrumen tersebut dapat diketahui anak-anak balita yang mengalami keterlambatan perkembangan bicara, bahasa, dan kecerdasan dengan membandingkan hasil pemeriksaan dengan tabel usia pencapaian bagi anak normal. Selanjutnya aspek perkembangan yang terlambat itulah yang perlu memperoleh stimulasi dini guna mengerjar ketertinggalannya.
Table usia pencapaian perkembangan bicara, bahasa dan kecerdasan anak balita norml yang dimaksud, sebagaimana tercantum pada gambar 12:
No.
Keamanan Perkembangan
Batas Usia
Desa
Kota
1.
Memberikan reaksi terhadap suara
2 mg
4mg
2.
Tertawa spontan tanpa digelitik
6 mg
10 mg
3.
Memanggil ayah dan ibu
1 th
2.5 th
4.
Menyebut satu benda yang ada di sekitarnya
2.5 th
3 th
5.
Menyebut dan menunjuk 3 bagian tubuh
2.5 th
3 th
6.
Menyebut namanya sendiri dengan lengkap
3.5 th
4 th
7.
Menghitung angka 1 s/d 5
4.5 th
 5 th
8.
Berbicara dengan menggunakan kalimat lengkap
4 th
5 th
9.
Memahami pengertian besar/ kecil
4.5 th
5 th
10.
Mengenal konsep bilangan
6 th
6 th
5. Identifikasi Aspek Sosial Anak
Seorang anak CP tidak akan mengalami kelainan emosi sementara aspek kepribadiannya baik, atau pendidikannya baik sementara keadaan sosial ekonominya jelek dan sebagainya. Problem sosial yang perlu diidentifikasi sebelum mereka memperoleh pelayanan rehabilitasi dan pendidikan, antara lain :
a.                Emosi dan Kepribadian
Berdasarkan penelitian, umumnya anak CP mengalami hal-hal sebagai berikut :
1)                        Kegagalan dalam kematangan sosial,
2)                        Memiliki sifat ketergantungan yang lebih dominan
3)                        Kepercayaan diri yang rendah
4)                        Minat yang rendah
5)                        Rasa takut yang berlebihan
6)                        Takut menemui kesulitan dalam melakukan hubungan sosial yang lainnya.
b.               Masalah tempat tinggal
Masalah kecacatan fisik, kadang pada anak tertentu membutuhkan perlatan khusus, namun kadang tidak sesuai dengan kondisi di dalam maupun di luar rumah sehingga anak masih tergantung pada orang tuanya.
Kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang berkaitan dengan tempat tinggal tersebut, kiranya perlu diungkap dalam kegiatan identifikasi anak CP. Demikian pula permasalahan yang berhubungan dengan kesulitan ekonomi, pendidikan, rekreasi, pemilihan pekerjaan, transportasi, dan problem sosial lain yang umumnya dialami oleh penyandang CP usia anak-anak dan dewasa.
c.                Perkembangan pergaulan dan percaya diri anak balita
Untuk mengetahi perkembangannya, kita perlu melihat bagaimana perkembangan kemampuan bergaul dan rasa percaya diri yang terjadi pada anak balita usia normal. Sehingga di dalam kegiatan identifikasi kita dapat segera memberikan stimulasi yang adekuat.
Tabel usia pencapaian perkembangan pergaulan dan percaya diri anak balita normal:
No.
Keamanan perkembangan
Batas usia
Desa
kota
1.
Memandang wajah
6 mg
4 mg
2.
Tersenym spontan
10 mg
12 mg
3.
Makan biskuit tanpa dibantu
7 bln
7 bln
4.
Meniru pekerjaan rumah tangga
2 th
3 th
5.
Makan sendiri tanpa banyak tercecer
3.5 th
4.5 th
6.
Berpakaian tanpa dibantu
5 th
4.5 th
7.
Mematuhi peraturan-peraturan sederhana
4 th
4.5 th
D. Metode Identifikasi
Delp & Manning (1981) menyatakan bahwa teknik identifikasi terdiri atas metode (1) inspeksi, (2) palpasi, (3) perkusi, (4) auskultasi, (5) uji laboratorium. Metode identifikasi ini memang lebih tepat di bidang kedokteran namn demikian penanganan anak CP, memang sulit untuk dipisahkan dari disiplin ilmu kedokteran.
Gejala kelainan yang menjadi sasaran observasi pada diri anak, misalnya berapa jumlah anggota badan yang kurang/ tidak berfungsi, gejala kelainan otot, sendi dan syaraf-syarafnya dan lain-lain. Kegiatan pengamatan perlu diseertai ingatan yang cepat, setia, teguh dan luas. Selanjutnya untuk menghindari kelemahan-kelemahan pengamatan yang mungkin timbul, hal-hal berikut perlu dipertimbangkan :
a.       Mengklasifikasi gejala sebelum pengamatan dilakukan
b.      Pengamatan hanya diarahkan pada gejala-gejala yang memang relevan
c.       Menggunakan jumlah pengamatan yang lebih banyak
d.      Melakukan pencatatan dengan segara
e.       Perlu didukung alat-alat pencatat atau formulir isian tertentu
f.       Dapat didukung pula alat-alat mekanik/ elektronik.
Beberapa alat observasi, yang dapat dipergunakan dalam identifikasi adalah :
a.          Check List
Yaitu suatu daftar pengecek, berisi nama subjek dan beberapa gejala CP yang akan diamati, seperti sikap berdiri, fungsi tangan kanan/ kiri, dan sebagainya. Di dalam pengamatan tinggal memberikan tanda check (x) pada daftar tersebut yang menunjukkan adanya gejala CP. Daftar ini dapat bersifat individual maupun kelompok.
Contoh : Chesk List Individual
No.
Gejala yang dialami
Ya
Tidak
1.
Salah satu/ kedua tangannya lumpuh


2.
Salah satu/ kedua kaki tidak berfungsi


3.
Gerakan tangan kaku/ kejang/ tremor dst.


Check List Kelompok
Kemampuan yang dapat dilakukan
Nama
Gerak fleksi
Gerak ekst.
Gerak rotasi
Gerak sirkumd
1.      Mawar




-sendi bahu




-sendi siku




2.      Kenanga




-Sendi bahu




-sendi siku




b.         Skala penilaian
Yaitu suatu daftar yang berisiakn ciri-ciri tingkahlaku anak yang dicatat secara bertingkat, yang dapat untuk menerangkan, menggolongkan dan menilai gejala tertentu.
Contoh :
Gejala
Score
1
2
3
4
5
6
7
8
Kerjasama

x






Ketekunan



x




Semangat
x







Keberanian






x

Motivasi, dst.




X



1.      Metode Palpasi
Merupakan cara mengadakan identifikasi yang agak lebih teliti daripada metode pertama, dengan cara meraba di setiap daerah tubuh yang perlu diraba untuk mendapatkan informasi tertentu yang diperlukan.
2.      Pemeriksaan Klinis
Merupakan pemeriksaan terhadap berbagai gejala fisik yang terdapat pada anak CP. Pemeriksaan ini dapat dilaksanakan dengan jalan inpeksi dan palpasi, terhadap perubahan bentuk bagian tubuh anak, serta adanya tanda-tanda yang tidak wajar pada permukaan fisik anak CP.
Pemeriksaan klinis ini biasanya dilakukan setelah anamnesa, karen anamnesa ini akan membantu pemeriksaan tubuh secara keseluruhan. Pelaksanaan pemeriksaan klinis yang baik dan teliti adalah pemeriksaan yang menggunakan sistem area, dimana pemeriksaan dengan sistem ini menganjurkan pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan dengan proses sebagai berikut :
a.       Pemeriksaan leher
b.      Pemeriksaan organ gerak
c.       Pemeriksaan perkembangan anak
d.      Kemampuan koordinasi dan keseimbangan
3.      Metode Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk mengadakan identifikasi dengan melalui percakapan langsung secara lisan, baik terhadap anak CP sendiri, orangtua, atau pihak lain yang dipandang perlu. Wawancara sebagai metode identifikasi, kadang-kadang sebagai pembantu utama daripada metode observasi. Data-data yang tidak diperoleh melalui observasi, dapat digali melalui wawancara. Berhasil atau tidaknya wawancara, tergantung pada tiga hal, yakni hubungan baik antara sasaran dengan pewawancara, keterampilan pewawancara serta pedoman dan cara pencatatan. Khusus dalam mencatat hasil wawancara secara garis dapat dilakukan dengan 5 cara, yaitu :
a)            Pencatatan langsung
Pewawancara langsung mencatat jawaban-jawaban dari sasaran, sehingga kita harus selalu siap di tangan alat-alat atu pedoman identifikasi. Sehinggga hubungan antara kita dengan sasaran menjadi kaku dan tidak bebas serta “raport” dapat terganggu.
b)            Pencatatan dari ingatan
Pencatatan dilakukan setelah wawancara sudah selesai seluruhnya. Jadi dalam wawancara ini kita tidak memegang apa-apa, sehingga hubungan antara kita dan sasaran tidak terganggu dan “raport” mudah tercipta.
4.      Metode Tes
Tes merupakan alat atau metode yang paling sering dipergunakan dalam identifikasi pada anak CP dan anak luar biasa pada umumnya.
Metode tes untuk identifikasi anak CP berupa sejumlah item yang berfungsi sebagai alat untuk :
a.    Mengetahui atau menentukan kemampuan otot, baik dalam hal potensi maupun abilitas anak dalam system dan mekanisme gerakannya (kemampuan gerak)
b.    Mengetahui kemampuan gerak sendi tertentu, seperti kemampuan gerak sendi jari tangan dan jari kaki, kemampuan gerak sendi siku, sendi bahu, sendi panggul, sendi lutut, sendi pergelangan tangan dan kaki dan sebagainya. Tes kemampuan gerak ini, meliputi tes kemampuan gerak halus maupun kemampuan gerak kasar.
c.    Metode tes juga dipergunakan untuk mengetahui kemampuan koordinasi senso motorik, misalnya koordinasi mata dengan gerak tangan, dan gerak kaki.
d.   Macam penggunaan metode tes yang lain untuk mengetahui bakat, minat, sikap, kadar inteligensi dan sebagainya
e.    Tes prestasi belajar, kadang juga dipergunakan untuk mengetahui kemampuan akademik yang sudah dimiliki anak.
Macam-macam tes yang sering digunakan dalam identifikasi anak CP tersebut, dapat menggunakan alat-alat tes yang standart (misalnya tes kecerdasan) maupun alat test yang tidak standart. Alat-alat tes yang tidak standart biasanya dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dan penguasaan anak terhadap aspek-aspek atau obyek tertentu. Tes yang digunakan biasanya lebih cenderung bersifat lokal, yang disesuaikan dengan batasan obyek yang ada, yang ingin diketahui.
Pada umumnya tujuan tes dalam identifikasi anak CP untuk mendapatkan data / informasi yang kemudian dianalisis secara intensif (dapat secara timwork ataupun sendiri-sendiri) terhadap latar belakang keadaan atau gejala, agar dapat digunakan sebagai pedoman dalam usaha penyembuhan / terapi maupun penyusunan program edukasi berikutnya. Walaupun juga tidak sedikit hasil tes dalam identifikasi anak CP juga berguna untuk rujukan ke ahli terapi tertentu.
Pada umumnya tes individual lebih cocok untuk usaha-usaha terapi (speech therapy, occupational therapy, physio therapy, psychotherapy dan sebagainya), mengingat jenis dan tingkat kecacatan setiap anak berbeda-beda. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, pelaksanaan tes kadangkala dilakukan secara kelompok. Pelaksana tes dalam identifikasi anak CP, bervariasi biasanya adalah : psikolog, dokter, guru khusus, fisio terapis, terapi okupasi, terapis bicara, dan sebagainya dengan waktu pelaksanaan yang bervariasi juga.
E.   Instrumen dan Cara Penafsiran Hasil
Pada umumnya, instrument yang digunakan untuk identifikasi anak CP instrument yang telah distandarisasikan, kecuali beberapa instrument identifikasi tertentu. Selain itu, instrument identifikasi yang dapat dijumpai dalam literature adalah instrument yang pernah diujicobakan oleh ahli-ahli tertentu, yang telah terbukti memiliki keterandalan (reliabilitas) dan kesakhihan (valid). Beberapa pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan instrument identifikasi anak CP adalah :
a.    Tujuan diadakannya identifikasi
b.    Obyek / aspek sasaran identifikasi
c.    Metode identifikasi yang dipilih
d.   Kemampuan / profesi pelaksana identifikasi
Beberapa instrument yang diketengahkan di dalam buku ini, hanya sekedar contoh, bukan satu-satunya instrument yang dapat digunakan dalam kegiatan identifikasi anak CP.
1.    Instrumen Identifikasi Identitas Anak dan Keluarganya
Pengisian instrument ini dapat dengan wawancara dengan orang tua yang mengantarkan anak waktu diadakan identifikasi. Petugas identifikasi dapat petugas pendaftaran murid baru di sekolah, petugas posyandu, petugas di klinik-klinik perawatan anak, para medis di tempat-tempat praktek dokter spesialis, psikolog dan lain-lain. Contoh instrument dapat seperti pada gambar 18 berikut ini :
2.    Instrumen Identifikasi Riwayat Anak
Pengisian instrument ini dapat dengan wawancara dan / atau tes. Ada dua contoh instrument yang dicantumkan dalam buku ini, yaitu model instrument dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1983) dan model alternatif.
3.    Instrumen Identifikasi Kemampuan Fisik
Beberapa contoh instrument identifikasi kemampuan fisik dicantumkan berikut ini :
a.        Model Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1983)
Gejala yang dapat diamati
Nilai
1.      Anggota – anggota gerak kaku/lemah/lumpuh
2.      Kesulitan dalam gerakan – gerakan : kaku/tidak lentur tak terkendali
3.      Ada bagian – bagian anggota gerak yang tak lengkap/tak sempurna/lebih kecil dari biasa
4.      Ada cacat pada alat gerak
5.      Jari – jari tangan kaku tidak dapat menggenggam
6.      Kesulitan waktu berdiri, berjalan atau duduk dan menunjukkan sikap tubuh yang tidak normal
7.      Gerakan – gerakan hyperaktif/tidk dapat tenang
……………………..
……………………..

……………………..

……………………..
……………………..
……………………..

……………………..
Jumlah

Nilai Standart

Gambar 22 : Contoh instumen identifikasi kemampuan fisik
Sumber : Depdikbud. R.O.1983
Pada instrument di atas, tiap-tiap item yang menunjukkan adanya gejala diberikan nilai 1, sebaliknya yang tidak ada gejala diberi nilai 0. Dengan batas nilai standar 3, maka apabila jumlah nilai identifikasi lebih dari 3 maka termasuk berkelainan. Instrumen tersebut ada kelemahannya, karena walaupun jumlah nilai hasil identifikasi hasnya 1 (satu) tetapi terletak pada point 1 atau 2 atau 4 atau 5, maka anak tersebut sudah dapat dimasukkan berkelainan. Jadi ketelitian dalam identifikasi para petugasnya sangat menentukan kebenaran diagnose kelainan.
b.    Model Pusat Rehabilitasi dan Remediasi (PPRR)  Universitas Sebelas Maret (1991).Contoh instrument lain, hasil pengembangan PPRR UNS (1991) yang mengadaptasi instrument dari Depdikbud (1983) dengan Denver Development Screening Tes (DDST) dan telah diujicobakan di lapangan.
c. Instrumen identifikasi khusus di bidang ADL
1) Model dari pusat rehabilitasi sosial bina daksa Prof. Dr. soeharso Surakarta (1994)
Nama anak  :
Umur          :
Kelamin      :
Diagnosa     :
No
Aktivitas
pelaksanaan


Awal  perkembangan

1
2
3
4

5

6


1
2
3
4

5
6
7
8



1
2
3

4
5

6
7


1
2
3


1
2

3
4


1
2
3

4
5
6
7
8
9
10


1
2

3

4
Kegiatan di tempat tidur
Bergerak di tempat tidur
Berguling di tempat tidur
Duduk di tempat tidur
Membungkuk di tempat tidur
Menggapai barang di meja dekat tempat tidur
Menghidupkan lampu

Perawatan diri
Menyisir rambut
Menggosok gigi
Mencukur jenggot
Mematikan/ menghidupkan keran
Mencuci
Menggunakan pot urine
Pergi ke WC
BAK dan BAB

Kegiatan makan dan minum
Mengaduk kopi/susu
Minum dari cangkir
Makan pakai sendok/garpu
Minum dari gelas
Memotong kue dengan pisau
Menciduk makanan
Menyuap nasi

Kegiatan berpakaian
Memakai pakaian
Memakai sepatu
Mengenakan sabuk

Penggunaan alat bantu
Menggunakan alat brace
Pindah dr tempat tidur ke kursi roda
Dari kursi roda ke toilet
Pemeliharaan brace

Kegiatan jalan
Berjalan maju 10m
Berjalan mundur 10m
Berjalan mundur membentuk angka 8
Berjalan ke samping 10m
Buka dan tutup pintu
Menyiapkan alat bantu
Melangkah tanpa bantuan
Berjalan di jalan yang rata
Berjalan di rumput
Berjalan di aspal

Kegiatan naik
Naik turun tangga 3m
Naik 20 tingkat dengan pegangan
Naik 20 tingkat tanpa pegangan
Naik kendaraan (bus)


2) Model dari department of physical medicine and rehabilitation, hospital for chronic illness, 1952
a)      bed activities :
- put on remove pajamas
- turn pages og book and newspaper
- wind wrist watch
- open and close safe
b)      hygienes :
- wash face, hand , and extremities
- trim and clean nails
- brush teeth and comb hair
- shave or women apply cosmetics
c)      Eating
- eat with fingers, butter bread
- eat with fork and spoon
- cut meat with knife and fork
- drink from glass or cup
d)     Dressing
- put on and remove slipover or button shirt, hose and slippers, tie or buckle shoes
- tie bow or tie
e)      Utilities
- door  fastenings
- light switches
-  window, blind and shade
- pencil sharpener and sciessors
- faucets and bottle tops
f)       Communication
- write or type name
- use dial pay telephone
- tell name and address
- understand directions
- open latte, read, and replace
- handle money
4. Instrumen Identifikasi aspek Psikhis
a. Instrumen tes kecerdasan
     (1) Ichtisar
Tes ini dibuat oleh A.Binet dan A.Simon dari Perancis pada tahun 1905, dengan tujuan untuk menemukan secara dini anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan kecerdasan. Batas penerapan instrument ini usia 2 tahun sampai dewasa.
b. Tes kepribadian
            1. Tes bender gestalt (1983)
2. Tes kepribadian dari Minnesota MMPI
3. Rochsach Test
4. Sondy test
5. P-F test
6. SSCT
c. Tes perilaku
            instrument identifikasi penyimpangan perilaku dapat dikembangkan sendiri.
5. Instrument identifikasi aspek sosial
VSMS ( Vineland Social Maturity Scale), instrument ini diciptakan Edgar A. Doolphd pada tahun 1935 untuk usia anak 0-15 tahun.
Prosedur, waktu, dan tempat identifikasi
1.                     Prosedur identifikasi
Terdapat 3 tahap prosedur :
1.      Persiapan, meliputi;
-          Perumusan program
-          Persiapan instrument identifikasi
2.      Pelaksanaan, meliputi;
-          Pengisian formulir identitas anak dan orang tua
-          Identifikasi riwayat anak
-          Observasi kondisi anak
-          Test kemampuan fisik
-          Pelaksanaan test kemampuan gerak
-          Pelaksanaan test neurologi
-          Pelaksanaan tes kecacatan penyerta
2.                     Waktu identifikasi
Waktu identifikasi dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
3.                     Tempat identifikasi
Tempat sebaiknya dipilih di tempat yang tenang, dengan penerangan yang normal. Dapat di rumah, sekolah, dokter praktek, psikolog, dll.

sumber:
 Assjari, Musjafak. (1995). Ortopedagogik Anak Tuna Daksa, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net