Selasa, 04 Oktober 2016

Dampak Kecacatan dan Macam Kebutuhan Perlakuan Anak dengan Gangguan Motorik

Dampak Kecacatan dan Macam Kebutuhan Perlakuan
A.    Dampak Kelainan
Yang dimaksud dampak kelainan disini dapat diliputi aspek fisik, mental dan aspek sosial. Seberapa besar dampak kelainan terhadap aspek fisik, mental dan sosial anak, keluarga dan masyarakat, sangat tergantung pada :
1.    Kadar keimanan anak dan keluarganya
2.    Berat ringannya kelainan anak
3.    Derajat kelainan fungsi
4.    Pihak orang orang yang ada disekitar anak yang mengalami kelainan
5.    Waktu terjadinya kelainan

1.    Dampak Kelainan Terhadap Anak 
Spatistas dan kelumpuhan serta gangguan koordinasi dan keseimbangan yang dialami anak anak CP, secara garis besar menimbulkan dua macam dampak/efek/akibat. Yaitu dampak yang bersifat langsung (direct effecis) dan dampak tidak langsung (nondirect effecis). Penjelasannya sebagai berikut :
a.    Dampak Langsung Kelainan CP
Yang dimaksud “dampak langsung”, adalah akibat langsung dan otomatis dari kelainan / kerusakan yang ada pada diri anak CP. Istilah lainnya sering disebut dampak primer.
Gejala kelainan CP terutama adalah :
1.    Adanya gerakan-gerakan involunter
2.    Kelumpuhan, baik yang ringan maupun yang berat, baik yang berupa hemiplegia, quadriplegia, atau monoplegia
3.    Kejang kejang yang dapat bersifat umum maupun lokal pada organ tertentu
4.    Ataxia atau gangguan koordinasi dan gangguan keseimbangan
5.    Gangguan perkembangan mental atau terbelakang mental
6.    Mungkin juga, gangguan pengelihatan, pendengaran, bicara, ganngguan sensibilitas dan atau laterisasi.
Adanya gejala kelainan anak CP yang tersebut diatas, maka dampak langsung/ primernya paling tidak adalah :
1.    Adanya gangguan mobilitas atau ambulasi
Dapat diakibatkan oleh adanya kelumpuhan dan/kekakuan anggota gerak tubuh terutama anggota gerak bawah. Juga bias diakibatkan oleh gangguan keseimbangan tubuh.

2.    Adanya gangguan dalam ADL
Hal ini terjadi pada anak CP terutama diakibatkan adanya gangguan koordinasi, spastisitas/rigiditas/fleksidilitas tonus otot pada anggota gerak tubuh. Dan juga dapat di akibatkan adanya gangguan visuomotorik anak.

3.    Adanya gangguan dalam komunikasi
Gangguan komunikasi pada anak CP (terutama pada komunikasi lisan) dapat terjadi sebagai akibat adanya kelumpuhan pada otot-otot mulut dan kelainan pada alat2 bicara.

4.    Adanya gangguan fungsi mental
Gangguan fungsi mental pada anak CP dapat terjadi pada anak CP dengan kadar kecerdasan yang rendah,maupun anak CP yang memiliki kadar  kecerdasan normal.

5.    Gangguan sensoris
Gangguan sensoris pada anak CP terutama pada sensoris pendengaran, pengelihatan, penciuman, pengecapan, dan gangguan orientasi ruang. Gangguan ini dapat terjadi terutama pada penderita ateosis, choreoateosis, dan tremor
b. Dampak Tidak Langsung Kelainan CP
    Yang dimaksudkan dampak tidak langsung adalah reaksi penyandang kelainan terhadap dampak kelainan tersebut (Franlin C. Schontz, 1980), artinya bagaimana si anak menghadapi masalah yang ditimbulkan oleh kelainan-kelainan yang disandang dalam kehidupannya. Istilah lain yang juga sering dijumpai dalam beberapa literature adalah “dampak sekunder”
Misalnya seorang anak CP mengalami kelumpuhan pada satu tangannya, pada usianya yang menginjak dewasa ia sudah saatnya untuk memulai memilih teman lain jenis sebagai tempat berbagi suka dan duka. Namun demikian karena kelainannya, pada setiap akan menentukan pilihan ia berpikir akan kondisiny, akibatnya ia sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan, minder dan tidak berani menjalin keakraban dengan teman-temannya.
Perilaku yang demikian, merupakan perwujudan dari reaksi emosional anak terhadap kondisinya. Secara psikologis perilaku ini juga sebagai ungkapan adanya penyimpangan perilaku yang berhubungan dengan harga diri yang rendah, gangguan perilaku yang berhubungan dengan identitas yang kabur, serta , gangguan perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi yang disebabkan oleh kelainannya.
Bentuk reaksi atas kondisi kelainan yang lain dapat berupa penyesalan diri sendiri, penyesalan terhadap orang tua dan orang-orang lain di sekitarnya. Bahkan dapat berbentuk kebencian terhadap dunia luar, sehingga menimbulkan sikap negative seperti perasaan rendah diri, isolasi diri, merasa tidak berdaya dan tidak berguna.
    Pada hakekatnya, reaksi anak terhadap kondisi kelainannya dipengaruhi oleh konsep diri anak.
Yang dimaksudkan dengan konsep diri adalah sama ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Secara umum disepakati bahwa konsep diri seseorang tidak dimiliki sejak lahir (bukan pembawaan).
    Konsep diri pada dasarnya diperoleh melalui kontak social dan pengalaman yang berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang lain tentang dirinya. Keluarga mempunyai peran penting dalam membantu perkembangan konsep diri anak terutama pada pengalaman masa kanak-kanak. Menurut Stuart dan Sundeen (1991) bahwa pengalaman awal kehidupan dalam keluarga merupakan dasar pembentukan konsep diri. Peran keluarga tersebut antara lain dalam membentuk:
a.    Perasaan mampu dan tidak mampu
b.     Perasaan diterima atau ditolak
c.    Kesempatan untuk identifikasi
d.    Penghargaan yang pantas tentang tujuan, perilaku dan nilai.
Pendek kata, konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar perilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Konsep diri individu, terdiri atas 5 komponen, yaitu (a) gambaran diri, (b) edial diri, (c) harga diri, (d) peran dan (e) identitas diri.
Anak CP umumnya memiliki identitas diri yang kabur, hal ini dapat dalam bentuk tidak mampu berempati dengan orang lain, perasaannya kosong, kecemasan yang tinggi, dan sebagainya.
    Anak CP memiliki konsep bahwa kelainan yang disandang karena akibat kesalahan orang tua, maka dampaknya ia akan menjadi benci terhadap orang tuanya. Jika kondisi kelainan dipandangnya sebagai wujud ketidakadilan Tuhan terhadapnya, maka dampaknya dia akan menjadi manusia yang kufur. Jika anak menilai orang lain memandang dirinya rendah, tidak mampu, dan anak bodoh, dampaknya anak akan menjadi tidak percaya pada kemampuan sendiri, penakutm ragu-ragu, rendah diri dan lain-lain. Jika anak memiliki pengalaman yang selalu gagal dalam setiap aktivitas, maka dampaknya anak menjadi tidak kreatif, dan masih banyak lagi.
    Dengan demikian, berbagai dampak tidak langsung kelainan anak CP, dapat deskripsi secara singkat sebagai berikut:
1)    Bahwa bentuk dampak tidak langsung kelainan anak, sangat tergantung bagaimana anak memberikan reaksi atas kondisi kelainannya.
2)    Dampak tidak langsung dari kelainan tidak dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk sejak ia usia kanak-kanak.
3)    Lingkungan social, terutama orang yang paling berarti dalam hidupnya, ikut menentukan berat ringannya dampak tidak langsung kelainan CP.
4)    Menifestasi dampak tidak langsung kelainan CP antara lain:
a.    Adanya perilaku yang berhubungan dengan harga diri yang rendah, seperti: mengkritik diri sendiri, menghindari/menolak kemampuan diri, menarik diri dari realitas, tidak pemberani, ragu-ragu, dan lain-lain.
b.    Adanya perilaku yang berhubungan dengan identitas diri yang kabur, seperti: kecintaan pada diri sendiri yang patologis, kecemasan yang tinggi, perasaan yang kosong, hubungan interpersonal yang kacau, dan sebagainya.
c.    Adanya perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi, seperti: pasif dan tidak berespon, komunikasi yang kurang selaras, kurang spontan, kurang ada inisiatif, ragu dalam mengambil keputusan, menarik diri dari hubungan social, dan sebagainya.
Bagaimanapun juga, konsep diri yang salah pada diri anak CP dapat dieliminir melalui pengalaman-pengalaman hidup yang lebih positif. Salah satunya melalui program pendidikan dan rehabilitasi yang diberikan di sekolah.



2.    Dampak Kelainan bagi Keluarga
Menurut Kirk & Gallahan (1993), bahwa dengan keberadaan penyandang kelainan ditengah-tengah keluarganya, orangtua menghadapi dua macam krisis, yaitu:
1.    Krisis pertama, orangtua mengahadapi anaknya sebagai kondisi kematian secara simbolis. Artinya seorang ibu yang menantikan kelahiran bayinya sejak lama dan ternyata setelah lahir mengalami kelainan, maka hancurlah semua harapan dan impiannya. Atau ketika lahir seorang bayi yang mungil dan cantik ternyata setelah terserang penyakit yang akut atau karena kecelakaan mengakibatkan kelainan, orangtua akan mengalami stress serta pupus harapan akan masa depan anaknya.
2.    Krisis kedua, yang berkaitan dengan kesilitan orangtua dalam merawat, membimbing dan mendidik anak yang berkelainan menjadi anak yang berpendidikan, berkehidupan layak secara ekonomi,vokasional,dan sosial. Sehingga menjadi beban seluruh keluarga.

Reaksi orangtua terhadap anak berkelainan ditengah-tengah keluarga :
1.    Merasa terpukul,sedih,bingung, merasa berdosa, kasihan, benci, dan lain-lain.
2.    Karena mungkin dianggap dapat menurunkan harkat dan martabat keluarga dimasyarakat, orangtua melakukan sesuatu diluar batas kemampuannya.
3.    Perasaan malu orangtua dimata masyarakat,sehingga anak dijauhkan dari peraulan sosial.
4.    Penerimaan atas kondisi anak, namun sifatnya pasif karena menganggap takdir Tuhan menghendakianak sebagai kelainan.
5.    Sikap penerimaan orangtua dengan mau menerima anak dalam kondiisi kelainandi sertai usaha memperoleh pengetahuan dengan cara merawat dan mendidik anak berkelainan melalui beberapa konsultasi dan rujukan ke klinik-klinik anak berkelainan.
Viola E Cardwell mengklasifikasikan  permasalahan orangtua (terutama ibu) anak CP menjadi 4 :
1.    Masalah yang berkaitan dengan tuntutan waktu yang  berkelebihan dan kelelahan orangtua.
Banyak waktu yang tersita untuk merawat dan memberikan perhatian khusus terhadap anak CP. Membutuhkan pendidikan dan bantuan lebih besar dari saudara-saudaranya lain.
2.    Masalah yang berkaitan dengan beratnya beban psikis seorang ibu.
Ayah tidak mau berbagi tanggung jawab, membantu merawat anaknya yang CP dan mengantarkan ibu dan anak  ke tempat-tempat rehabilitasi seingga ibu merasa menanggung beban ini secara sendirian.
3.    Masalah sosial lain yang berkaitan dengan mahalnya biaya perawatan dan pendidikan anak CP.
Kelainan anak kadang tidak hanya tunggal sehingga membutuhkan beberapa macam terapi/klinik, yang memerlukan biaya yang mahal. Akibatnya banyak kebutuhan lain yang terdesak pemenuhannya.Misalnya saja kursi roda bagi anak CP. Adanya penyangga kepala, penyangga kaki dan tangan, penegak tubuh, meja yang bisa dibongkar pasang, safe belt  dan sebagainya. Sehingga kursi roda ini disediakan berbasis pada kebutuhan masing-masing individu pemakainya.
4.    Terganggunya program bersama dalam keluarga.
Dampak masalah kelainan anak CP tidak saja dirasakan anak CP namun orangtua bahkan seluruh anggota keluarga yang ada.Sikap realistis dan menerima anak CP adalah sikap yang terbaik bagi keluarga yang memiliki anak CP.

3.    Dampak Kelainan bagi Masyarakat
Reaksi masyarakat terhadap kelainan anak CP sangat bervariasi, pada umumnya lebih banyak yang cenderung bernada negatif karena dipengaruhi oleh pandangan mereka atau bagaimana mereka menilai anak berkelainan.
Ada 4 macam pandangan masyarakat pada anak berkelainan :
1.    Anak berkelainan pada dasarnya berbeda dengan orang lain pada umumnya
2.    Anak berkelainan adalah tidak berdaya
3.    Anak berkelainan harus selalu ditolong
4.    Anak berkalainan hakekatnya adalah beban orang lain
Pandangan masyarakat yang demikian sudah tentu tidak semuanya benar sebab pandangan tersebut selalu dikaitkan dengan kondisi kelainannya, masyarakat belum melihat potensi dan sisa kemampuan yang masih dimiliki anak berkelainan. Padahal banyak pengalaman menunjukkan bahwa ada penyandang kelainan yang ternyata memiliki kesuksesan hidup yang lebih baik dari orang normal, baik ditinjau secara ekonomis, pendidikan, status sosial, dan lain-lain.
Dalam perkembangan pandangan masyarakat terhadap anak kelainan terjadi perubahan dari waktu ke waktu. Pandangan masyarakat sekarang telah beranjak dari pemusatan perhatian pada kondisi fisik dan pengobatan ke perhatian pada kondisi fisik dan pengobatan ke perhatian pada interaksi kompleks kekuatan-kekuatan sekeliling, dari model kedokteran ke modal ekologi, dari tahap penolakan dan pemisahan anak berkelainan sampai penerimaan mereka sebagai anggota masyarakat yang berguna. (Mohammad Amin, 1994)
Terlepas dari bagaimana perkembangan pandangan masyarakat terhadap anak CP, keberadaan anak CP di tengah-tengah masyarakat samapi sekarang masih menimbulkan dampak tertentu, antara lain :
a.    Masyarakat memiliki beban dengan keberadaan anak CP
Manifestasi adanya beban yang dipikul masyarakat, antara lain :
1.    Masyarakat perlu membantu anak dan keluarganya dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
2.    Masyarakat perlu menyediakan sekolah khusus bagi anak CP atau menyediakan guru pembimbing khusus yang dapat membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditemui anak dalam proses belajarnya.
3.    Dalam skala yang lebih luas, keberadaan anak CP tetap menjadi beban pembangunan nasional.
b.    Bertambahnya warga masyarakat yang tidak mandiri
c.    Berkurangnya jumlah warga masyarakat yang mampu berperan serta dalam proses pembangunan bangsa.

B.    Kebutuhan Khusus Anak Cerebral Palsy
    Kebutuhan perlakuan anak CP secara umum dapat digolongkan menjadi 3, yaitu :
1.    Kebutuhan untuk memperoleh pelayanan medik, guna mengurangi permasalahan yang dialami anak di bidang medis.
2.    Kebutuhan untuk memperoleh pelayanan rehabilitasi dan habilitasi guna mengurangi gangguan fungsi sebagai dampak dari adanya kelainan CP.
3.    Kebutuhan untuk memperolah pendidikan khusus.
Secara singkat kebutuhan-kebutuhan tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

1.    Kebutuhan Pelayanan Medik
Permasalahan anak CP di bidang medik yang menonjol adalah adanya permasalahan yang berkaitan dengan syaraf otot dan permasalahan yang berkaitan dengan sendi.
Pelayanan medik yang dilakukan secara konservatif dimaksdutkan untuk mencegah terjadinya kontraktur dan deformitas akibat adanya spasitas dan istirahat yang lama pada otak dan sendi, seperti pelemasan otot yang kaku, peningkatan kekuatan otot yang lemah, peningkatan daya tahan dan koordinasi gerak melalui program – program kegiatan dalam terapi fisik (physio therapy). Atau melalui latihan gerak – gerakan tertentu guna mencegah dan mengurangi deformitas (oto dan sendi), serta memperluas ruang gerak sendi tertentu.
Pelayanan medik yang dilakukan lewat operasi kadang juga dibutuhkan oleh penyandang kelainan CP tertentu, misalnya anak CP yang anggota gerak bawahnya mengalami equinus deformitas. Atau operasi pada anak CP yang mengalami tangan Spastik (spastic hand) tindakan operasi rekonstruksi dilakukan untuk memperbaiki fungsi tangan dalam hal menggenggam dan membuka jari – jari tangannya.
Pelayanan medis melalui tindakan operasi sudah tentu tidak akan dilakukan tanpa pertimbangan khusus. Terutama berkaitan dengan :
(a)    Aspek maturitas sel – sel syaraf di otak.
(b)    Aspek fungsional dari anggota gerak yang bersangkutan.
(c)    Aspek potensi intelektual anak yang bersangkutan.
(d)    Aspek kesehatan fisik dan kesiapan mental anak yang bersangkutan.
(e)    Ada tidaknya rekomendasi/ijin yang diberikan oleh orangtua anak yang bersangkutan.

2. Kebutuhan Pelayanan Rehabilitasi

Kebutuhan pelayanan rehabilitasi, dimaksudtkan unutuk memperbaiki kembali dan mengembangkan kemampuan fisik dan mental anak, sehingga anak dapat mengatasi masalah yang timbul sebagai konsekuensi dari kelainannya.
Diantara permasalahan anak CP yang membutuhkan pelayanan rehabilitasi adalah : masalah yang mengganggu aktivitas komunikasi anak (terutamam CP tipe spastik), masalah ADL ( hampir pada semua tipe kelainan CP), masalah mobilitas, maslaah psikologis, dan sosial. Pelaksanaan program rhabilitasi dapat terintegrasi dengan pelaksanaan proses belajar mengajar suatu bidang studi maupun kegiatan yang berdiri sendiri seperti program physio therapy, dan lain-lain.
Disamping itu dilihat dari waktu pelaksanaannya, rehabilitasi anak CP dapat dilakukan ketika anak masih berusia muda/balita/pra sekolah, yang berupa stimulasi dini perkembangannya dan perujukan ke tenaga profesional, ataupun setelah anak berusia diatas 5th dan terdaftar sebagai peserta didik di salah satu sekolah formal.

3. Kebutuhan Pelayanan Pendidikan Khusus
Kebutuhan pelayanan pendidikan tidak berlaku bagi semua anak CP (Soeharso, 1982) mengingat kelainan yang disandang kadang sedemikian beratnya sehingga walaupun di didik mereka tidak mungkin akan mengalami kemajuan. Bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus adalah mereka yang memiliki kadar kecerdasan sedikit di bawah normal, normal, dan diatas normal.
sumber:
Assjari, Musjafak. (1995). Ortopedagogik Anak Tuna Daksa, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net